Selain itu, ada risiko ramp-up yang inheren pada setiap fasilitas manufaktur besar. Ketika smelter HPAL pertama kali beroperasi, kemungkinan besar tidak akan langsung mencapai kapasitas penuh. Ada fase learning curve, optimalisasi proses, dan troubleshooting teknis yang akan memakan waktu. Kebutuhan modal kerja juga akan melonjak ketika produksi mulai berjalan, persediaan bahan baku, pembayaran energi listrik untuk fasilitas yang energy-intensive, dan stabilisasi supply chain memerlukan cash yang besar.
“Jadi saya melihat 2026-2027 sebagai fase investasi, sedangkan potensi earnings inflection yang lebih signifikan seharusnya mulai terlihat setelah fasilitas HPAL memasuki tahap ramp-up dan mencapai utilisasi komersial yang lebih tinggi,” pungkas Nafan.
Proyeksi ini membuat posisi rekomendasi analis menjadi “wait and see” untuk saham INCO, bukan “buy” yang agresif, tetapi juga bukan “sell” yang pesimis. Investor institusional dari Asia dan Eropa yang fokus pada tema “energy transition” tetap menunjukkan minat, namun dengan ekspektasi return yang terdistribusi dalam horizon 3-5 tahun, bukan immediate gains.
Dimensi global dari proyek ini juga tidak bisa diabaikan. Kemitraan PT Vale dengan Zhejiang Huayou Cobalt, Ford, Gem Co. Ltd., dan EcoPro menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya membangun fasilitas pengolahan dalam isolasi. Vale sedang mengkonstruksi sebuah ekosistem hilirisasi yang terintegrasi dengan supply chain global industri baterai. Artinya, bukan hanya Vale yang mempertaruhkan investasi besar, mitra-mitra strategis ini juga berkomitmen dengan nilai miliaran dolar, menciptakan lock-in effect yang membuat continuity proyek menjadi imperatif finansial bagi semua pihak.
Transformasi PT Vale dari perusahaan tambang tradisional menjadi pemain terintegrasi dalam rantai pasok energi terbarukan bukanlah fenomena terisolasi. Ini adalah bagian dari pergeseran global yang lebih besar di mana produsen komoditas mentah di emerging markets mencari cara untuk menangkap nilai tambah yang lebih tinggi.