Laporan : Ummu Farwah Salsabila / HAWA.ID

HAWA – Sulawesi bukan lagi sekedar wilayah penghasil batu tambang mentah. Dalam beberapa tahun ke depan, tiga titik di pulau ini akan menjadi jantung ekonomi hijau Asia Tenggara.

Data resmi yang dihimpun Hawa.id mencatat bagaimana PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mengubah lanskap industri nikel dengan mempompa investasi senilai US$8,7 miliar atau setara Rp 155 triliun dengan asumsi kurs Rp17.860 per dolar untuk membangun tiga fasilitas pengolahan canggih yang akan memproduksi jutaan ton material baterai untuk kendaraan listrik global.

Keputusan strategis ini lebih dari sekadar perluasan kapasitas produksi. Ini adalah pergeseran fundamental dari tambang tradisional menuju ekosistem hilirisasi modern yang menghubungkan Sulawesi ke rantai pasok teknologi masa depan.

Budiawansyah, Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia, dalam sebuah media gathering akhir Agustus 2024 mengungkapkan bahwa transformasi ini akan membawa Indonesia dari posisi “penyuplai bahan baku” menjadi “produsen komponen strategis” dalam revolusi transportasi berbasis listrik.

Jika ada satu proyek yang paling dekat dengan titik garis finis, itulah smelter HPAL Pomalaa di Sulawesi Tenggara. Hingga Juli 2026, fasilitas senilai US$3,4 miliar ini telah mencapai progres spektakuler, hampir 100 persen konstruksi selesai, dan lebih penting lagi, telah melampaui Mechanical Completion (Milestone), istilah teknis yang berarti seluruh peralatan dan pekerjaan mekanik utama telah terpasang sempurna sesuai spesifikasi.

Halaman Selanjutnya: "Sekarang tinggal proses commissioning saja," kata Budiawansyah dengan nada optimis. Jika semuanya berjalan tanpa hambatan,...