“Kami mengestimasikan pengembangan Sorowako berada pada periode 2027-2028, mengikuti sequence pengembangan hilirisasi yang telah disusun perusahaan,” terang Budiawansyah.
Dengan investasi sekitar US$1,4 miliar, smelter Sorowako akan mampu memproduksi 60.000 ton nikel MHP dengan memanfaatkan 11,5 juta ton limonit dan 1 juta ton saprolit per tahun. Kemitraan dengan Zhejiang Huayou Cobalt pada proyek ini memperkuat posisi Vale dalam ekosistem industri baterai global.
Dari Penyuplai Mentah ke Pemain Rantai Pasok Baterai: Signifikansi Strategis Hilirisasi
Senior Market Analyst dari Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, melihat transformasi Vale ini sebagai titik balik struktural. “Sebelumnya, Vale adalah perusahaan yang sangat bergantung pada produksi nickel matte berbasis Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF),” jelasnya.
Menurutnya, proyek-proyek HPAL akan mengubah Vale menjadi perusahaan dengan eksposur jauh lebih luas terhadap rantai nilai nikel untuk baterai kendaraan Listrik, pasar yang pertumbuhannya eksponensial.