“Sekarang tinggal proses commissioning saja,” kata Budiawansyah dengan nada optimis.

Jika semuanya berjalan tanpa hambatan, smelter pertama PT Vale akan mulai beroperasi penuh pada Desember 2026. Angka tersebut bukan sekadar prediksi biasa, ini adalah komitmen konkret yang sudah dipertaruhkan oleh perusahaan di hadapan investor dan regulator.

Fasilitas Pomalaa dirancang untuk mengolah 21 juta ton limonit dan 0,72 juta ton saprolit setiap tahunnya menjadi 120.000 ton nikel dalam bentuk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP). MHP adalah material antara berkualitas tinggi yang menjadi bahan baku utama untuk katoda baterai ion-litium kendaraan listrik.

Proyek ini dikembangkan bersama dua mitra strategis yaitu Zhejiang Huayou Cobalt (produsen katoda terbesar dunia) dan Ford (produsen mobil listrik global), menciptakan sinergi vertikal yang langka di industri ini.

Keunggulan Pomalaa terletak pada integrasi geografis sempurna, dimana smelter berada dalam satu kompleks dengan tambang PT Vale yang juga berlokasi di area yang sama. Artinya, bijih langsung dari lubang tambang dapat dialirkan ke fasilitas pengolahan tanpa perlu transportasi jarak jauh, menghemat biaya logistik dan meminimalkan jejak karbon. Para pekerja lokal dari Kabupaten Kolaka, yang awalnya khawatir ekspor bijih mentah akan terus berlanjut, kini menyaksikan fasilitas modern ini sebagai simbol bahwa nilai tambah akan tetap di tanah Indonesia.

Halaman Sebelumnya: Laporan : Ummu Farwah Salsabila / HAWA.ID HAWA - Sulawesi bukan lagi sekedar wilayah penghasil...
Halaman Selanjutnya: Bahodopi dan Sorowako: Fase Kedua Hilirisasi dengan Model Kemitraan Global Sementara Pomalaa berlari menuju garis...