Bahodopi dan Sorowako: Fase Kedua Hilirisasi dengan Model Kemitraan Global

Sementara Pomalaa berlari menuju garis finis, dua proyek saudara juga menunjukkan kemajuan mengesankan. Bahodopi, yang berlokasi di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, baru saja merayakan pencapaian signifikan dengan kedatangan autoclave, komponen reaktor inti dari sistem HPAL yang dalam jargon teknis engineer berarti fasilitas ini telah memasuki fase konstruksi kritis menuju penyelesaian fisik.

Proyek Bahodopi bernilai US$1,4 miliar melibatkan kemitraan dengan dua pemain industri baterai terkemuka yakni Gem Co. Ltd. dan EcoPro. Target mechanical completion ditetapkan pada Maret 2027. Ketika beroperasi penuh, smelter Bahodopi akan memproduksi 66.000 ton nikel MHP per tahun dengan mengolah 10,4 juta ton limonit dan 1 juta ton saprolit setiap tahunnya.

Proyek ketiga, pengembangan Limonit Sorowako di Sulawesi Selatan, mengikuti arsitektur operasional yang berbeda.

Berbeda dengan Pomalaa dan Bahodopi dimana tambang dan smelter berada dalam lokasi sama, di Sorowako sistem dirancang terpisah secara fisik. Bijih nikel ditambang di lokasi Sorowako, kemudian diproses melalui Feed Preparation Plant (FPP), dan selanjutnya dialirkan melalui sistem perpipaan canggih menuju fasilitas smelter HPAL. Model ini memerlukan investasi infrastruktur tambahan namun memungkinkan optimalisasi setiap tahap proses produksi.

Halaman Sebelumnya: "Sekarang tinggal proses commissioning saja," kata Budiawansyah dengan nada optimis. Jika semuanya berjalan tanpa hambatan,...
Halaman Selanjutnya: "Kami mengestimasikan pengembangan Sorowako berada pada periode 2027-2028, mengikuti sequence pengembangan hilirisasi yang telah disusun...