Suryanto (52), seorang pekerja tambang dari Desa Langkowangko, Kabupaten Pomalaa, menceritakan bagaimana ekspektasi berubah.
“Tahun lalu saya khawatir pekerjaan di tambang akan berakhir karena semua batu mentah dikirim keluar. Tapi dengan smelter ini, ada kepastian kerja untuk anak cucu saya. Fasilitas pengolahan membutuhkan teknisi, operator, dan maintenance staff yang bertahan lama, bukan tenaga kerja musiman,” katanya.
Namun, Siti Nur’aini (38), seorang ketua kelompok perempuan pengrajin di Bahodopi, mengungkapkan kekhawatiran yang berbeda.
“Smelter memang membawa lapangan kerja, tapi kekhawatiran kami tentang dampak lingkungan belum sepenuhnya terjawab,” ujarnya.
“Teknologi HPAL jauh lebih ramah lingkungan daripada RKEF, itu benar. Tapi bagaimana dengan pengelolaan limbah asam? Bagaimana jaminan air tanah kami tetap bersih?”