PALU, HAWA – SMP Negeri 2 Palu ditetapkan sebagai Sekolah Rujukan Google pertama untuk jenjang SMP di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Penetapan ini dilakukan setelah sekolah tersebut memenuhi berbagai persyaratan ketat, termasuk kesiapan tenaga pengajar yang memiliki sertifikat Google dan fasilitas pembelajaran berbasis teknologi digital.
Kepala SMP Negeri 2 Palu, Erik Ruben, menjelaskan bahwa sekolahnya telah mendapatkan sertifikat sebagai kandidat Sekolah Rujukan Google sejak Juni 2024. Salah satu syarat krusial yang harus dipenuhi adalah minimal 40 persen guru memiliki sertifikat pelatihan Google dan Gemini. Selain itu, ketersediaan sarana pendukung pembelajaran digital juga menjadi faktor penentu. Erik mengatakan, “SMP Negeri 2 Palu memiliki 60 Chromebook, ditambah dua papan interaktif digital yang mendukung pembelajaran dan interaksi di kelas,” pada Jumat (18/9/2026).
Pemanfaatan teknologi digital ini diharapkan dapat menyediakan alternatif pembelajaran, terutama saat siswa tidak bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar secara langsung di sekolah. Kondisi ini sangat relevan dengan situasi Kota Palu yang memiliki potensi bencana alam, memungkinkan proses pembelajaran tetap berjalan secara daring. “Minimal ada interaksi antara guru dan siswa walaupun hanya melalui online,” tambah Erik. Ia berharap penerapan pembelajaran berbasis teknologi ini tidak hanya mempermudah proses belajar mengajar, tetapi juga meningkatkan kemampuan guru dan siswa dalam penguasaan teknologi. “Output yang diharapkan adalah bagaimana siswa bisa menguasai teknologi secara umum, begitu juga guru-guru,” pungkasnya.
Dukungan fasilitas menjadi kunci keberhasilan SMPN 2 Palu. Erik mengapresiasi Pemerintah Kota Palu melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang telah menyediakan 60 Chromebook. Selain itu, sekolah ini juga memiliki dua papan interaktif digital, satu dari dukungan pemerintah pusat dan satu lagi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Palu.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Palu, Hardi, menegaskan bahwa SMPN 2 Palu merupakan sekolah pertama tingkat SMP di Kota Palu yang mencapai status Sekolah Rujukan Google. Program ini adalah bagian dari kerja sama strategis dengan Google for Education. Sebanyak 34 sekolah di Kota Palu, baik SD maupun SMP, telah mengikuti pelatihan dalam program ini. Hardi menambahkan, untuk jenjang SD, lima sekolah telah bersertifikat, sementara di tingkat SMP, beberapa sekolah seperti SMP Negeri 4 dan SMP Negeri 18 Palu masih dalam proses. “SMP 2 ini adalah SMP yang pertama yang ditetapkan sebagai Sekolah Rujukan Google karena sudah memenuhi persyaratan,” kata Hardi.
Pemenuhan fasilitas teknologi menjadi bentuk intervensi pemerintah daerah untuk mendukung pembelajaran digital. Selain sarana, peningkatan kapasitas guru melalui pelatihan juga menjadi bagian penting. Hardi menjelaskan bahwa sekolah yang mengikuti program harus memiliki minimal 40 persen guru yang lulus pelatihan atau Training of Trainer (ToT) tingkat pertama maupun kedua. Pelatihan tersebut mencakup berbagai layanan digital, seperti Google Classroom, Google Form, Gemini AI, Canva, Google Docs, dan Google Sites. Guru, kepala sekolah, dan siswa juga diarahkan untuk menggunakan akun belajar.id yang dapat diintegrasikan dengan berbagai layanan tersebut. Hardi menyebut, Kota Palu memiliki capaian penggunaan akun belajar.id yang tinggi di Sulawesi Tengah, menjadi salah satu faktor mengapa Palu dipilih sebagai wilayah percontohan oleh Google Indonesia.
Pemerintah Kota Palu tidak berhenti pada SMPN 2 Palu, melainkan menargetkan pengembangan Sekolah Rujukan Google di setiap kecamatan. Hardi mengatakan, 34 sekolah yang telah mengikuti pelatihan akan difasilitasi secara bertahap untuk memenuhi persyaratan program. “Kami akan menjadikan distrik-distrik Google. Jadi di setiap kecamatan ada sekolah-sekolah yang memang menjadi Sekolah Rujukan Google,” ujarnya. Ia mencontohkan SDN Batu Sampu di Kecamatan Ulujadi dan SD Inpres 3 Birobuli di Kecamatan Palu Selatan yang telah masuk dalam pengembangan program. Untuk Kecamatan Palu Utara, pemerintah mendorong sekolah-sekolah, termasuk SMP Negeri 18, untuk memenuhi persyaratan. Hardi menegaskan bahwa fasilitas program tidak dibebankan kepada orang tua siswa. “Tidak pernah kita bebankan kepada sekolah. Semua Pemerintah Kota Palu. Untuk membebani kepada orang tua, kita tidak bebankan,” katanya.
Selain fasilitas, biaya pelatihan dan sertifikasi dalam program ini diberikan secara gratis. Guru yang telah bersertifikat diharapkan dapat menularkan pengetahuan dan keterampilannya kepada sekolah lain di Kota Palu. Hardi juga menekankan bahwa penggunaan teknologi dalam pembelajaran tidak berarti siswa hanya diperkenalkan pada materi umum. Teknologi justru dapat digunakan untuk mengangkat potensi dan kearifan lokal Kota Palu. Ia mencontohkan, guru dapat mengembangkan pembelajaran tentang transportasi dengan mengambil contoh yang ada di Kota Palu, sehingga materi menjadi lebih kontekstual. Hal serupa dapat dilakukan untuk materi sejarah atau kebudayaan, seperti memperkenalkan cagar budaya dan kearifan lokal Palu, termasuk Banua Oge, Masjid Jami, dan kompleks makam Guru Tua di Alkhairaat. “Cagar budaya yang ada di Kota Palu kita perkenalkan, kearifan lokal kita. Di dalamnya ada Banua Oge, kemudian Masjid Jami, dan kompleks makam Guru Tua di Alkhairaat,” ujar Hardi. Pemanfaatan berbagai aplikasi digital dapat membantu guru membuat pembelajaran lebih menarik, efektif, dan kontekstual. Hardi juga menggarisbawahi bahwa sejumlah layanan yang digunakan dalam program ini dapat diakses tanpa biaya bagi pengguna yang memenuhi ketentuan, termasuk melalui akun belajar.id. “Pelatihannya gratis. Canva digratiskan. Yang penting dia punya akun belajar.id,” tutupnya.***