BANGGAI KEPULAUAN, HAWA – Anggota DPRD Sulawesi Tengah Sri Atun melakukan Kunjungan Daerah Pemilihan (Kundapil) di Desa Kombutokan, Kabupaten Banggai Kepulauan, guna mengawasi penggunaan APBD sekaligus menyerap aspirasi warga secara langsung. Kegiatan ini bertujuan memastikan program pembangunan berjalan sesuai kebutuhan masyarakat di wilayah pelosok.

Pertemuan yang berlangsung di Balai Rakyat Desa Kombutokan tersebut dihadiri sekitar 100 warga bersama jajaran pemerintah desa dan tokoh masyarakat. Dalam dialog ini, Sri Atun menjelaskan berbagai program prioritas seperti Berani Cerdas dan Berani Sehat yang digulirkan oleh pemerintah daerah.

Masyarakat menyampaikan apresiasi tinggi atas realisasi bantuan mobil ambulans yang telah dirasakan manfaatnya oleh warga setempat. Bantuan tersebut merupakan hasil usulan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah melalui agenda reses yang dilaksanakan sebelumnya guna meningkatkan akses layanan kesehatan.

“Masyarakat menyampaikan apresiasi atas sejumlah bantuan yang telah direalisasikan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, termasuk bantuan mobil ambulans yang sebelumnya diusulkan melalui kegiatan reses dan kini telah memberikan manfaat bagi warga,” kata Sri Atun, Kamis (09/07).

Namun, Sri Atun DPRD Sulteng juga menerima kekhawatiran serius dari warga terkait rencana penambangan batu gamping di wilayah mereka. Masyarakat khawatir aktivitas tambang tersebut akan memicu krisis air bersih, ancaman banjir, hingga bencana longsor yang merusak ekosistem desa.

Selain isu lingkungan, warga mengusulkan perbaikan infrastruktur seperti Jalan Lingkar Peling dan jalan usaha tani untuk memperlancar distribusi hasil bumi. Permintaan lain mencakup bantuan alat mesin pertanian, bibit perkebunan, serta pemberdayaan UMKM bagi ibu rumah tangga di desa.

“Kundapil merupakan sarana bagi kami untuk memastikan bahwa pelaksanaan APBD benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat. Aspirasi yang disampaikan hari ini akan kami kawal agar menjadi perhatian pemerintah,” kata Sri Atun, Anggota DPRD Sulawesi Tengah.