JAKARTA, HAWA – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto kembali Prabowo minta wartawan keluar ruangan saat berpidato dalam Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri di Jakarta International Convention Center (JICC) pada 26/06. Keputusan ini diambil Prabowo di tengah sambutan, mengundang para media untuk “minum kopi di luar” dengan alasan ingin berbicara “dari hati ke hati” kepada ribuan akademisi yang hadir, sekaligus mengakhiri siaran langsung YouTube Sekretariat Presiden.
Momen Prabowo minta wartawan keluar ruangan ini terjadi setelah sekitar setengah jam acara berlangsung yang semula terbuka untuk diliput media. Presiden Prabowo Subianto menyatakan secara halus agar para wartawan meninggalkan ruangan.
“Dengan hormat saya mengundang para wartawan untuk minum kopi di luar, saya yakin Pak Brian (Mendiktisaintek Brian Yuliarto) sudah siapkan kopi-kopi yang bagus,” kata Presiden RI Prabowo Subianto.
Alasan utama Prabowo minta wartawan keluar adalah keinginan untuk berbicara lebih jujur dan terbuka kepada para guru besar tanpa adanya liputan media. “Wartawan, dengan segala hormat, para media, saya hari ini mau bicara dari hati ke hati kepada guru-guru besar,” kata Presiden RI Prabowo Subianto. Bersamaan dengan itu, siaran langsung melalui kanal YouTube resmi Sekretariat Presiden juga diakhiri.
Pembawa acara kemudian mengumumkan, “Karena sesuatu dan lain hal, kami persilakan seluruh rekan-rekan media berkenan meninggalkan ruangan.” kata pembawa acara. Kejadian Prabowo minta wartawan keluar ini bukan yang pertama kali. Sebelumnya, insiden serupa terjadi saat acara Town Hall Danantara pada 28/04, dengan alasan menjaga suasana profesional dan menghormati pimpinan BUMN. Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri ini diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Video momen Prabowo minta wartawan keluar ruangan dengan cepat menyebar dan viral di media sosial, memicu beragam tanggapan dari publik. Banyak yang mengungkapkan kekecewaan dan mempertanyakan urgensi kebijakan ini, dengan salah satu komentar mempertanyakan, “Apakah media bukan bagian dari corong bagi bangsa ini?” Sementara itu, media juga menyoroti transparansi acara kenegaraan yang tiba-tiba menjadi tertutup.