PALU, HAWA.ID – Kompetisi pencarian bakat menyanyi Equistar Sulawesi Tengah 2026 memasuki fase penentuan. Setelah melalui rangkaian seleksi yang berlangsung selama beberapa pekan, sebanyak 12 peserta terbaik berhasil mengamankan tempat di babak grand final yang dijadwalkan berlangsung pada 13 Juni 2026.
Mereka adalah Nur Reva Handayani, Nayla Fenian Gintoe, Mohamad Sahroni, Nara Dwi Inayah, Stachya Veronica Malonta, Gita rahma, Sam Bernat, Septia Rahayu, Erin Eriansyah, Silmi Salima, Fahri zibran, dan Nur Safira Thamrin
Ketua DPC PAPPRI Kabupaten Sigi, Yudhi Nugraha, mengatakan minat masyarakat untuk mengikuti ajang tersebut cukup besar. Sejak pendaftaran dibuka pada Mei lalu, puluhan peserta dari berbagai daerah di Sulawesi Tengah mengirimkan rekaman video penampilan mereka untuk mengikuti proses seleksi.
“Kurang lebih ada 50 peserta yang mendaftar melalui video. Setelah dilakukan penilaian dan penyaringan bertahap, tersisa 25 peserta yang kemudian mengikuti seleksi lanjutan hingga akhirnya terpilih 12 finalis,” kata Yudhi, saat konfresi pers, Kamis (11/6/2026).
Menurutnya, para finalis berasal dari sejumlah kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah, di antaranya Kota Palu, Kabupaten Sigi, Donggala, dan Parigi Moutong. Seluruh proses penjaringan awal dilakukan secara daring untuk memberikan kesempatan yang lebih luas bagi talenta muda di berbagai daerah.
Ke-12 finalis tersebut akan tampil secara langsung pada malam puncak Equistar Sulteng 2026 yang digelar Sabtu (13/6/2026) mulai pukul 15.00 WITA. Selain memperebutkan gelar juara utama, panitia juga menyiapkan penghargaan untuk juara kedua, juara ketiga, dan kategori favorit.
Ketua DPD PAPPRI Sulawesi Tengah, Umaryadi Tangkilisan, menjelaskan bahwa Equistar tidak sekadar menjadi ajang kompetisi, tetapi juga bagian dari upaya pembinaan berkelanjutan bagi penyanyi muda daerah.
Menurutnya, para peserta yang terpilih akan memperoleh kesempatan mengikuti program pengembangan kapasitas melalui Equistar Academy. Program tersebut mencakup pelatihan personal branding, proses produksi karya musik, hingga pemahaman tentang ekosistem industri musik modern.
“Kami ingin mencetak talenta yang tidak hanya mampu bernyanyi dengan baik, tetapi juga memahami bagaimana bertahan dan berkembang di industri musik,” ujarnya.
Komitmen untuk memperkuat identitas budaya lokal juga menjadi salah satu ciri khas kompetisi ini. Pada tahap sebelumnya, peserta diwajibkan membawakan lagu daerah serta memperkenalkan pencipta lagu yang mereka nyanyikan. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan apresiasi generasi muda terhadap kekayaan musik daerah Sulawesi Tengah.
Sementara itu, salah satu juri Equistar 2026, Michael Runtuwene, menilai bahwa kemampuan vokal bukan satu-satunya aspek yang menentukan keberhasilan seorang penyanyi. Faktor mental dan kesiapan menghadapi dinamika industri musik nasional turut menjadi perhatian dalam proses penjurian.
“Kami melihat apakah peserta memiliki ketahanan mental yang cukup untuk menghadapi tantangan dunia musik profesional. Itu menjadi salah satu indikator penting dalam penilaian,” ungkap Michael.
Melalui ajang ini, para finalis tidak hanya berkesempatan menunjukkan kemampuan terbaik mereka di atas panggung, tetapi juga membuka peluang membangun jejaring dengan produser, pencipta lagu, serta berbagai pelaku industri musik nasional.
Versi ini lebih mengalir, menggunakan struktur berita yang lebih rapi, serta menghindari penyalinan frasa dan susunan kalimat dari naskah asli.TN