GAZA, HAWA – Kiper Palestina Saleem Al-Ashqar dilaporkan tewas setelah ditembak oleh tentara Israel di wilayah Al-Qarara, Jalur Gaza, pada Senin (29/06). Insiden tragis ini terjadi saat penjaga gawang berusia 32 tahun tersebut sedang berada di luar rumah untuk keperluan logistik keluarga.

Kiper Palestina Saleem Al-Ashqar merupakan pemain andalan dari klub Khadmat Khan Younis yang berkompetisi di Gaza Strip Premier League. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi dunia olahraga, terutama karena almarhum baru saja menikah lima bulan lalu dan kini sang istri sedang mengandung anak pertama.

“Saleem baru saja pulang dari tempat kerja dan berhenti di toko untuk mengambil tabung gas. Tiba-tiba kendaraan lapis baja Israel menembak, salah satu peluru mengenai dadanya,” kata Saadallah Abu Mousa, kerabat korban.

Hingga saat ini, tercatat sudah lebih dari 1.000 atlet gugur sejak konflik pecah pada Oktober 2023. Kematian Kiper Palestina Saleem Al-Ashqar menambah daftar panjang dari 567 insan sepak bola, termasuk pemain, pelatih, hingga wasit yang menjadi korban operasi militer tersebut.

“Saleem Al-Ashqar adalah salah satu dari ratusan atlet Palestina yang gugur akibat agresi Israel. Kami menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga dan menegaskan bahwa olahraga Palestina terus menjadi korban konflik ini,” tulis Asosiasi Sepak Bola Palestina dalam pernyataan resminya.

Klub sepak bola asal Chile, Deportivo Palestino, juga turut menyampaikan belasungkawa atas hilangnya nyawa sang pemain. Gelombang dukungan terus mengalir dari berbagai komunitas internasional yang mengecam pembunuhan sistematis terhadap warga sipil dan figur publik di wilayah konflik.

“Kami sangat berduka atas kematian tragis kiper Palestina berusia 32 tahun, Saleem Al-Ashqar. Ia dibunuh oleh tentara Israel. Kami menyerukan keadilan dan perdamaian,” ungkap pihak manajemen klub Deportivo Palestino melalui saluran resmi mereka.

Tragedi yang menimpa Kiper Palestina Saleem Al-Ashqar ini kembali memicu sorotan global terhadap kondisi kemanusiaan di Gaza. Di panggung Piala Dunia 2026, sejumlah suporter dari berbagai negara terlihat membentangkan atribut dukungan sebagai bentuk solidaritas terhadap perjuangan rakyat Palestina.