PALU, HAWA – Gempa Palu Magnitudo 6,7 mengguncang Sulawesi Tengah pada Selasa 16/06 pukul 11.27 WITA yang mengakibatkan penutupan akses Jembatan Tiga karena mengalami keretakan parah. Guncangan tektonik yang terjadi tepat pada momen Tahun Baru Islam 1448 Hijriah ini berpusat di darat pada kedalaman 10 kilometer namun dipastikan tidak berpotensi tsunami.

Sejumlah infrastruktur penting di Kota Palu dan Kabupaten Sigi dilaporkan mengalami kerusakan material cukup serius pasca getaran kuat tersebut. Warga di sekitar wilayah Talise sempat melaporkan fenomena air laut surut sementara para pasien di RSUD Undata segera dievakuasi ke luar gedung karena kekhawatiran akan adanya dampak Gempa Palu Magnitudo 6,7 susulan.

Selain Jembatan Tiga yang kini ditutup total, kerusakan fisik juga menimpa Kantor Bupati Sigi serta Auditorium Universitas Tadulako yang saat kejadian sedang digunakan untuk kegiatan perpisahan sekolah. Beberapa hotel komersial di pusat kota juga dilaporkan terdampak guncangan Gempa Palu Magnitudo 6,7 dengan tingkat kerusakan yang bervariasi pada bagian plafon dan dinding.

“Memperhatikan letak episenter dan kedalaman hiposenternya, guncangan ini merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif,” kata perwakilan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui keterangan resminya.

Data teknis menunjukkan wilayah Torue dan Palolo menerima guncangan paling keras pada skala VI hingga VII MMI yang berisiko menimbulkan kerusakan bangunan permanen. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan menjauhi bangunan yang sudah retak akibat dampak Gempa Palu Magnitudo 6,7 guna menghindari risiko reruntuhan saat pembersihan puing dilakukan.

Longsor juga dilaporkan terjadi di wilayah Gunung Nokilalaki sementara pemerintah daerah mulai melakukan penjagaan ketat pada akses jembatan yang mengalami kerusakan struktur. Hingga kini petugas gabungan masih melakukan asesmen lapangan untuk memastikan keamanan infrastruktur publik di seluruh wilayah terdampak Sulawesi Tengah pasca bencana.