PALU, HAWA – Peristiwa Gempa Palu 1 Muharam berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang wilayah Sulawesi Tengah pada Selasa 16/06/2026 pukul 10:27 WIB. Gempa tektonik ini berpusat di darat pada kedalaman 10 kilometer dengan koordinat 1,04 LS dan 120,23 BT atau sekitar 42 kilometer arah tenggara Kota Palu.
Guncangan Gempa Palu 1 Muharam ini terasa sangat kuat di wilayah Kota Palu serta Kabupaten Sigi dan sempat memicu kepanikan warga yang melakukan evakuasi mandiri. Meski getaran terasa signifikan, otoritas terkait memastikan bahwa aktivitas seismik yang bertepatan dengan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah ini tidak berpotensi memicu gelombang tsunami.
“Gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas Sesar Palu-Koro,” tulis rilis resmi BMKG. Lembaga tersebut mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada terhadap potensi gempa susulan yang mungkin terjadi di sekitar lokasi episentrum.
Kejadian Gempa Palu 1 Muharam ini kembali mengingatkan publik pada kerentanan geologis wilayah Sulawesi Tengah yang dilalui patahan aktif Sesar Palu-Koro. Patahan ini tercatat memiliki pergerakan rata-rata mencapai 35 hingga 45 milimeter per tahun dan sering menjadi pemicu bencana besar di masa lalu.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa pada 20/05/1938, gempa serupa pernah mengguncang wilayah Parigi yang mengakibatkan pengangkatan daratan baru yang kini menjadi Pulau Makakata. Peristiwa tersebut juga menyebabkan tsunami setinggi 3 meter dan menghancurkan ratusan rumah di kawasan pesisir Teluk Tomini.
Selain itu, wilayah Donggala juga pernah mengalami bencana dahsyat pada 14/08/1968 akibat gempa bermagnitudo 7,4 yang memicu tsunami setinggi 10 meter. Bencana tersebut mengakibatkan tenggelamnya Pulau Tuguan secara permanen serta merenggut nyawa ratusan penduduk di kawasan pesisir Teluk Tambu.
Masyarakat diimbau untuk selalu mengikuti standar bangunan tahan gempa sesuai regulasi pemerintah untuk meminimalkan risiko dampak kerusakan fisik di kawasan rawan bencana. Kesadaran akan sejarah panjang kebencanaan di Sulawesi Tengah menjadi kunci utama dalam membangun mitigasi bencana yang lebih baik di masa depan.