MANILA, HAWA – Badai raksasa Super Typhoon Bavi dilaporkan mencapai puncak intensitasnya di Samudra Pasifik Barat dengan diameter sistem awan mencapai 1.600 kilometer atau setara luas Pulau Sulawesi. Fenomena alam ini terpantau bergerak menuju arah barat laut mendekati wilayah Taiwan dan Okinawa pada 05/07/2026.
Kecepatan angin maksimum yang dihasilkan Super Typhoon Bavi tercatat melampaui 250 kilometer per jam dengan tekanan pusat yang sangat rendah. Kondisi ekstrem ini membuat sistem tersebut masuk dalam kategori badai super menurut klasifikasi internasional yang memicu dikeluarkannya peringatan dini di berbagai negara terdampak.
Pihak berwenang di Filipina bagian utara mulai mengantisipasi risiko banjir bandang dan tanah longsor akibat hujan lebat yang dibawa sistem ini. Meskipun tidak melintasi daratan Indonesia secara langsung, keberadaan Super Typhoon Bavi tetap memberikan pengaruh pada peningkatan curah hujan di wilayah Sulawesi Utara.
“Bavi has intensified into a super typhoon with sustained winds exceeding 250 kilometers per hour, making it one of the largest tropical systems recorded in the western Pacific this year,” kata BBC News, Laporan Media.
Badan Meteorologi Jepang juga terus memantau pergerakan mata badai yang terlihat sangat simetris melalui tangkapan citra satelit terbaru. Masyarakat di wilayah pesisir Okinawa kini diminta untuk segera melakukan evakuasi karena potensi gelombang laut yang diprediksi bisa mencapai ketinggian lebih dari 12 meter.
“The system shows a well-defined eye and symmetrical cloud bands, indicating a mature super typhoon stage,” kata Badan Meteorologi Jepang, JMA.
Fenomena kemunculan Super Typhoon Bavi ini mempertegas tren peningkatan intensitas badai tropis di kawasan Asia Timur akibat pemanasan suhu permukaan laut secara global. Data statistik menunjukkan bahwa proporsi badai kategori kuat mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa tahun terakhir seiring anomali iklim yang semakin sering terjadi.