Buku catatan keberhasilan mereka kini semakin tebal. Perempuan yang terpuruk kembali berdiri tegak dengan karya, membuktikan hal itu melalui aneka kerajinan tangan dari limbah plastik yang telah mereka buat dan jual.Tak hanya itu, Nofika juga turut dalam kegiatan keagamaan dan pembinaan hukum, menjadikan masa hukumannya sebagai fase pertumbuhan spiritual dan mental.

Sebentar lagi, ia akan menjalani reintegrasi sosial. Tapi ia tak datang ke masyarakat dengan tangan kosong. Ia membawa mimpi besar, mendirikan Rumah Karya sebuah galeri dan ruang kreatif di kawasan wisata Danau Poso, tempat perempuan bisa belajar keterampilan, berbagi cerita, dan saling menguatkan.

“Di dalam lapas ada Suka Rajut, setelah bebas nanti saya akan lanjutkan jadi Rumah Karya. Saya ingin tempat ini menjadi ruang aman dan produktif bagi perempuan.”ujarnya.

Dengan modal keyakinan dan tekad, Nofika membuktikan bahwa masa lalu bukan penentu masa depan. Bahwa di balik luka bencana dan jeruji besi, ada peluang untuk bangkit, menyembuhkan, dan menginspirasi. Ia ingin menjadi pengingat bahwa setiap perempuan, dalam kondisi apapun, punya kekuatan untuk bangkit dan memimpin perubahan.

“Saya ingin buktikan bahwa mantan napi bisa sukses, bisa bermartabat, dan bisa berkontribusi untuk masyarakat,” tutupnya, penuh semangat.

Siapkan Mental Mengahdapi Stigma

Nonce (50), warga binaan di lapas tersebut, menceritakan bahwa ia tidak ingin masa hukuman yang telah dijalani selama dua tahun sembilan bulan menjadi akhir dari segalanya. Vonis sembilan tahun atas kasus peredaran narkotika tidak membuatnya terpuruk sepenuhnya.

Terjerat kasus karena tekanan ekonomi sebagai orang tua tunggal, Nonce memilih menata ulang hidupnya dari balik jeruji besi.

“Saya belajar banyak hal di sini,” kata Nonce siang itu, Rabu (12/3/2025), menunjuk tas rajut hasil tangannya.

“Puji Tuhan, sudah satu tahun lebih saya bikin tas. Sudah banyak yang laku. Bahkan ada pengunjung yang pesan.” Tambahnya dengan senyum penuh kebanggaan.

Nonce mengakui bahwa hal utama yang harus ia persiapkan Ketika bebas nanti, selain keterampilan yaitu mental menghadapi stigma negatif dari masyarakat di luar sana. Nonce bahkan berharap, ia mampu menghadapi tekanan tersebut untuk bisa siap menjalani kesempatan kedua yang Tuhan berikan.

Kami tidak sekadar menjalani masa hukuman di sini, tapi kami saling menguatkan dan mengingatkan bahwa kesalahan yang kami lakukan sebelumnya bukanlah tanpa alasan. Kami ingin memperbaiki diri, saling mengingatkan, dan menguatkan agar kami bisa kembali menata hidup saat keluar dari Lapas,” ujarnya.

Manfaatkan Mendsos Tebarkan Pesan Penguatan

Sementara itu, di luar tembok lapas, ada Bella (36), perempuan yang pernah menghabiskan lima tahun hidupnya menjadi Wabin di Lapas Perempuan Kelas III Palu karena kasus serupa. Bebas pada Juli 2023, Bella sempat bekerja sebagai buruh tambang di Morowali Utara sebelum memutuskan pindah ke Bunta dan membangun kehidupan baru bersama suaminya.

Halaman Sebelumnya: Matahari terik siang itu menyinari halaman Lapas Perempuan Palu. Di sebuah sudut, tangan-tangan sibuk menganyam...
Halaman Selanjutnya: Kondisi ekonomi memaksa Bella terlibat dalam jaringan Narkoba yang membawanya hingga ke jeruji besi tahun...