BOGOTA, HAWA – Tim penyelamat terus berpacu dengan waktu mencari korban yang masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan di wilayah barat Kolombia pada Selasa, 11 Agustus 2026. Upaya pencarian ini menyusul gempa Kolombia berkekuatan magnitudo 7,4 yang mengguncang negara tersebut dan menewaskan sedikitnya 250 orang.

Keluarga korban masih menunggu di sekitar reruntuhan, berharap menemukan tanda-tanda kehidupan dari orang-orang yang kemungkinan masih terjebak di bawah tumpukan beton. Gempa Kolombia yang terjadi pada Senin pagi itu merupakan salah satu gempa terkuat yang melanda negara tersebut dalam beberapa dekade terakhir.

Guncangan gempa Kolombia menerjang kawasan penghasil kopi di bagian barat negara itu, menyebabkan apartemen, rumah, sekolah, dan pusat kesehatan mengalami kerusakan parah, miring, hingga runtuh. Di sejumlah kota yang mengalami kerusakan paling parah, tim penyelamat bekerja sepanjang malam menggunakan crane dan alat berat. Dalam beberapa lokasi terdampak gempa Kolombia, petugas bahkan menggunakan tangan untuk menyingkirkan puing, memotong rangka baja yang terpelintir, dan memindahkan material reruntuhan dengan ember demi menemukan korban yang masih hidup.

“Kami fokus pada tugas mendesak untuk menyelamatkan nyawa, memastikan kedatangan tim penyelamat, serta membawa pasokan medis dan rumah sakit lapangan,” kata Rodrigo Lara, Menteri Dalam Negeri Kolombia.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), mengutip data resmi hingga Senin malam, melaporkan sedikitnya 126 orang meninggal dunia dan 1.495 lainnya mengalami luka-luka akibat gempa Kolombia. Namun, estimasi pemerintah daerah pada Selasa menyebut jumlah korban tewas telah mencapai sekitar 254 orang. Perbedaan angka tersebut mencerminkan situasi yang masih berkembang, seiring tim penyelamat mulai menjangkau wilayah-wilayah yang terdampak dan jaringan komunikasi secara bertahap kembali pulih.

Pencarian Korban Gempa Kolombia

OCHA menyebut hampir 5.000 rumah mengalami kerusakan akibat gempa Kolombia. Puluhan bangunan dilaporkan runtuh, sementara ratusan rumah lainnya hancur. Di Cali, warga berkumpul di jalanan setelah sebagian rumah dan bangunan apartemen runtuh. Sejumlah keluarga memasak di luar rumah, menyelamatkan barang-barang yang masih dapat digunakan, dan bersiap menjalani hari berikutnya tanpa tempat tinggal.

Salah satu rumah sakit di kota itu juga mengalami kerusakan parah. Beberapa lantai teratas bangunan, termasuk bagian yang digunakan untuk perawatan anak, runtuh. Direktur rumah sakit, Irne Torres Castro, mengatakan kepada Caracol Television bahwa sejumlah pasien sempat terjebak, sementara sekitar 600 pasien lainnya harus mendapatkan perawatan di jalan yang dipenuhi puing-puing bangunan.

Tim penyelamat masih terus menyisir bangunan-bangunan yang rusak untuk mencari korban yang kemungkinan selamat dari gempa Kolombia. Dengan komunikasi yang perlahan pulih dan tim bantuan mulai berdatangan, skala kerusakan serta jumlah korban diperkirakan masih dapat berubah.***