Daily Stream
Dengar Berita
0:00 / 0:00
Logo

MANGGARAI TIMUR, HAWA – Rentetan dugaan kasus keracunan Program MBG di berbagai daerah memicu kekhawatiran di kalangan siswa. Myscha, seorang siswi kelas 5 SDI Compang Ngeles di pelosok Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, menulis surat terbuka untuk Presiden Prabowo Subianto pada Minggu (26/04).

Dalam surat yang viral di media sosial tersebut, Myscha mempertanyakan keterlambatan distribusi makanan ke wilayah tertinggal. Ia juga menyoroti fasilitas sekolahnya yang memprihatinkan, seperti atap seng bekas yang bocor dan meja kursi yang banyak rusak.

“Di TV dan YouTube saya lihat daerah lain sudah lama jalan. Teman-teman sudah makan, tapi di sekolah kami sampai hari ini belum ada,” kata Myscha, Siswi Kelas 5 SDI Compang Ngeles Manggarai Timur.

Selain mengeluh, ia terang terangan menolak jika Program MBG nantinya direalisasikan di sekolahnya. Berkaca pada insiden keracunan ratusan siswa di daerah tetangga Satar Mese pada Februari lalu, Myscha merasa sangat cemas.

“Saya jadi takut, Pak. Takut pusing dan sakit perut. Kalau suatu saat MBG masuk ke sekolah saya, saya tidak mau makan,” kata Myscha, Siswi Kelas 5 SDI Compang Ngeles Manggarai Timur.

Siswi ini menyarankan agar anggaran makanan dialihkan dalam bentuk uang tunai langsung ke orang tua atau untuk perbaikan sekolah. Menurutnya, masakan orang tua jauh lebih aman dan kesejahteraan guru lebih penting dibanding sekadar makanan gratis.

Ketakutan siswi NTT terhadap kelayakan Program MBG ini muncul bersamaan dengan proses investigasi insiden keracunan massal di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Sebanyak 63 ibu dan balita dilaporkan mengalami muntah dan diare usai mengonsumsi makanan dari satuan pelayanan setempat pada (16/04).

Menanggapi rentetan kecemasan dan kasus tersebut, Badan Gizi Nasional membantah keras tudingan bahwa makanan mereka menjadi penyebab keracunan fatal. Hal ini menyusul kabar meninggalnya seorang balita berusia dua tahun di Leles, Cianjur.

“Tidak benar meninggalnya bayi usia 2 tahun di Cianjur karena Program MBG,” kata Nanik S. Deyang, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi.

Nanik mengklaim makanan yang dibagikan terjamin higienis karena ribuan penerima lain tidak mengalami gejala serupa. Saat ini, otoritas kesehatan setempat masih melakukan uji sampel secara intensif.

“Kami masih menunggu hasil uji laboratorium guna memastikan apakah pemicu keracunan dari makanan atau faktor lain. Kami segera umumkan setelah hasilnya keluar sekitar satu pekan ke depan,” kata Made Setiawan, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur.*/LIA