JAKARTA, HAWA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memberikan perhatian khusus terhadap aspek kesehatan jiwa jemaah haji Indonesia guna menekan potensi gangguan mental selama pelaksanaan ibadah di Arab Saudi pada musim 1447 H/2026 M. Langkah ini diambil setelah data menunjukkan sekitar 10-15 persen jemaah mengalami masalah psikologis dan 30-40 persen lainnya menghadapi gangguan tidur serius seperti insomnia.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menjelaskan bahwa tekanan fisik dan perubahan lingkungan yang ekstrem menjadi pemicu utama. Suhu di Arab Saudi yang mencapai 35-38 derajat Celsius, kepadatan lebih dari 1,8 juta orang, serta perubahan ritme sirkadian memaksa jemaah harus memiliki ketahanan mental yang kuat.
“Ibadah haji adalah puncak spiritual umat Islam, namun di balik makna religius yang mendalam, perjalanan ini juga membawa tantangan besar bagi kesehatan jiwa,” kata Imran Pambudi, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes.
Kemenkes mencatat bahwa 80 persen pasien yang dirawat di Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) merupakan lansia dengan gejala demensia. Oleh karena itu, persiapan kesehatan jiwa jemaah haji kini melibatkan tim khusus yang terdiri dari psikolog dan psikiater untuk melakukan penanganan cepat di lapangan, baik di Mekkah maupun Madinah.
“Perubahan lingkungan, kepadatan jutaan jemaah, serta tekanan fisik dan emosional dapat memicu stres, kecemasan, hingga gangguan mental,” ujar Imran Pambudi, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes.
Strategi holistik telah disiapkan oleh Kementerian Kesehatan melalui konseling prakeberangkatan dan manajemen stres yang ketat. Selain pengecekan fisik, status istitha’ah kesehatan mental kini menjadi syarat wajib bagi 221.000 jemaah yang berangkat agar mereka mampu beradaptasi dengan dinamika ibadah yang berat.
“Petugas kesehatan haji kini dilengkapi tim khusus untuk menangani masalah psikologis secara cepat agar tidak berkembang menjadi kondisi serius,” kata Imran Pambudi, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes.
Hingga pantauan terbaru pada 25/04, keberangkatan gelombang pertama dilaporkan berjalan lancar dengan pengawasan real-time. Pemerintah berharap edukasi mengenai relaksasi dan pengaturan jadwal istirahat dapat membantu jemaah menjaga stabilitas emosional mereka hingga kembali ke tanah air.
“Semua ini menunjukkan bahwa persiapan mental dan penataan ekspektasi menjadi sama pentingnya dengan persiapan fisik, agar jemaah mampu menerima dinamika ibadah dengan tenang dan tidak terbebani harapan yang terlalu tinggi,” pungkas Imran Pambudi, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes.*/LIA