JAKARTA, HAWA – Memasuki tahun kesepuluh, Festival Sastra Banggai (FSB) kembali mengulas kondisi lanskap Sulawesi Tengah yang dikelilingi industri ekstraktif melalui diskusi, bedah buku, dan lomba cerpen berjudul “Torang Bacarita Tambang.” Sastra menjadi ruang vital untuk merekam suara dari masyarakat di lingkar tambang, mengupas kisah-kisah dari tanah yang terus dikeruk, budaya yang tergusur, serta menyoroti kerentanan Sulawesi Tengah terhadap bencana.
Setiap penjuru Sulawesi Tengah kini dikelilingi oleh industri ekstraktif, mulai dari penambangan nikel di Kabupaten Morowali dan Morowali Utara, proyek gas alam cair di Kabupaten Banggai, hingga penggalian emas, bijih besi, dan berbagai batuan di banyak titik lainnya. Bahkan, ibu kota Palu turut memasok material untuk proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur. Di balik narasi transisi energi yang digadang-gadang sebagai masa depan ramah lingkungan, Sulawesi Tengah justru diekstraksi dari berbagai arah.
Melalui Festival Sastra Banggai ini, Trend Asia secara khusus mengulas persoalan ini. Rangkaian acara melibatkan diskusi mendalam, bedah buku berjudul Pergulatan Transisi Energi: Satu Isu Beragam Dilema yang terbit pada tahun 2014, serta lomba cerpen “Torang Bacarita Tambang.” Inisiatif ini menjadikan sastra sebagai medium kuat untuk menyuarakan pengalaman mereka yang hidup di tengah aktivitas pertambangan, mengungkap cerita tentang tanah yang terkikis, kehidupan yang bergeser, dan kerentanan geografis Sulawesi Tengah yang berada di atas sesar-sesar aktif yang terus bergerak.
“Di tengah ekspansi industri ekstraktif, pengalaman masyarakat terdampak luput dari narasi pembangunan. Sastra memberikan ruang yang menyentuh titik-titik emosional sekaligus mengingatkan kembali soal apa yang terjadi ketika bumi terus ditekan melampaui batasannya,” kata Zamzami Airlinus, Direktur Komunikasi Trend Asia.
Nikel, sebagai salah satu komoditas tambang mineral kritis yang dieksploitasi secara masif oleh pemerintah, telah merusak bentang alam subur. Industri ini, yang dibingkai sebagai bagian dari transisi energi dan dilindungi di bawah label Proyek Strategis Nasional (PSN), justru mengorbankan ruang hidup dan kesejahteraan masyarakat, yang menjadi sorotan penting dalam Festival Sastra Banggai tahun ini.
Di Morowali, masyarakat yang sebelumnya mengandalkan pertanian cengkeh, merica, dan jambu mete di lahan pegunungan, kini terpaksa beralih profesi menjadi nelayan setelah lahan mereka tergusur. Namun, pencemaran lingkungan akibat aktivitas tambang membuat para nelayan harus melaut lebih jauh untuk mendapatkan ikan. Kondisi ini bahkan menyebabkan nelayan perempuan menggantungkan jala mereka dan beralih memulung plastik botol hingga besi rongsok untuk bertahan hidup.
Dampak perubahan ruang hidup ini berjalan beriringan dengan konversi area hutan menjadi wilayah industri. Data yang dikumpulkan oleh Trend Asia menunjukkan bahwa konsesi Izin Usaha Pertambangan (IUP) nikel merambah ke kawasan hutan dan hutan lindung. Sepanjang tahun 2020 hingga 2026, industri nikel diperkirakan memicu penggundulan hutan seluas 66.550 hektare. Kondisi ini secara signifikan meningkatkan kerentanan suatu wilayah terhadap bencana banjir, sebagaimana yang telah terjadi di kawasan padat industri di Morowali.
“Banjir maupun kebakaran akibat pembukaan lahan yang terus berulang tidak bisa ditolerir dan dibiarkan terus terjadi. Risiko bencana yang seharusnya ditekan justru berpotensi meningkat ketika perut bumi terus-menerus dieksploitasi,” jelas Adi Anugrah Pratama, Juru Kampanye Energi Trend Asia.
Selain itu, berdasarkan Peta Wilayah Rawan Bencana Konsesi PBPH dan IUP Nikel di Sulawesi, teridentifikasi bahwa sebagian besar area berada di wilayah dengan kerentanan tinggi. Pada sektor pertambangan, terdapat 1.154.180 hektare IUP nikel, dengan 96% lokasinya menumpuk di zona rawan bencana. Selain berhadapan dengan risiko bencana ekologis, Sulawesi Tengah juga memiliki kerentanan geografis yang tinggi karena keberadaan sesar-sesar aktif seperti Sesar Palu-Koro, Sesar Sausu, dan Sesar Palolo, yang menjadi perhatian utama Festival Sastra Banggai.
Pada Juni 2026, gempa bumi berkekuatan M6,7 mengguncang Sigi, Palu, dan Parigi Moutong. Sebelumnya, pada Juli 2025, gempa bumi berkekuatan M6,0 juga terjadi di Poso. Rentetan gempa bumi ini membuka luka lama gempa M7,5 yang diikuti tsunami dan likuefaksi pada tahun 2018 di Palu–Donggala. Peristiwa-peristiwa ini semakin menegaskan urgensi isu yang diangkat dalam Festival Sastra Banggai.
“Kerentanan atas bencana sepatutnya menjadi perhatian negara, perlindungan ekologis harus menjadi prioritas utama, apalagi di wilayah yang tercatat rentan akan bencana,” kata Zamzami.TIN