MOROWALI, HAWA – PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) turut serta dalam Jambore Kepala Teknik Tambang (KTT) Sulawesi Tengah 2026. Dalam kesempatan ini, Senior Manager Mine Production Bahodopi PT Vale Indonesia Tbk, Sarjan Soleman, menjadi narasumber utama untuk memaparkan praktik pertambangan nikel berkelanjutan dan inovasi teknologi yang diterapkan perusahaan, khususnya di operasional Morowali. PT Vale menjelaskan proses bisnis, komitmen ESG, serta strategi hilirisasi yang menjadi pilar utama operasi mereka di Sulawesi Tengah.

Sarjan Soleman menjelaskan bahwa PT Vale Indonesia memiliki empat blok operasi di Indonesia. “Kami punya empat blok yang saat ini berjalan, ya. Yang berproduksi saat ini adalah tentunya yang paling pertama adalah Blok Sorowako, sekitar 70.000 hektar yang sudah 50 tahun lebih sudah berproduksi,” kata Sarjan. Blok Sorowako juga telah memulai hilirisasi sejak awal produksi.

Operasi baru PT Vale di Morowali, tepatnya di Blok Bahodopi, mulai berproduksi pada tahun 2025. “Yang baru saja kita buka di tahun lalu, berproduksi tahun lalu tahun 2025, yaitu Blok Bahodopi. Jadi, sudah sekitar… tepatnya di Kecamatan Bungku Timur, di Desa Bahomoak, Tete, Bahomakmur, Fufu, dan Bahomoteh,” jelas Sarjan.

Blok Pomalaa juga sedang dalam transisi menuju produksi, dengan harapan dapat beroperasi penuh akhir tahun ini. Sementara itu, Blok Suasuo masih dalam tahap pengembangan dan studi. Sarjan juga menyoroti investasi besar perusahaan. “Total investasi kita 9 miliar (Dolar AS),” ujarnya.

PT Vale mengedepankan tujuan perusahaan untuk meningkatkan kualitas hidup dan membangun masa depan yang lebih baik bersama masyarakat, pemerintah daerah, dan karyawan. Perusahaan ini juga berpegang pada lima nilai inti: kepedulian (compassion), akuntabilitas (accountability), ketangguhan (resilience), keunggulan (excellence), dan keberlanjutan (sustainability).

Operasi di Morowali dimulai dengan konstruksi area tambang dan infrastruktur pada Januari 2023, meskipun produksi baru dimulai Agustus 2025. Sebelumnya, selama 10 tahun, PT Vale telah aktif dalam program CSR untuk meningkatkan ‘social license to operate’ di Morowali.

Saat ini, PT Vale mengelola sekitar 22.000 hektar Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) aktif di Morowali. “Tahun ini kami mendapatkan sekitar 2,3 juta ton RKAB. Walaupun itu sebenarnya 30% dari apa yang kami ajukan,” kata Sarjan.

Dalam bisnis proses di Morowali, PT Vale menerapkan berbagai teknologi canggih. Salah satunya adalah Minerva, sistem manajemen armada yang mengintegrasikan data mulai dari absensi karyawan hingga pemantauan alat berat secara real-time. “Minerva itu adalah Fleet Management System yang kami terapkan sehingga seluruh equipment yang ada di area kami, baik itu konstruksi maupun pertambangan, itu dapat kami monitor baik itu secara apa kegiatannya dan juga ke mana dia pergi,” jelas Sarjan.

Platform Minerva mencakup berbagai aplikasi, seperti sistem absensi terintegrasi, pemantauan armada real-time dengan GPS dan High Precision System (HPS) untuk ekskavator, CCTV, serta dasbor dan pelaporan online. Teknologi ini memungkinkan akurasi penggalian hingga 0-10 cm, meningkatkan konservasi dan recovery material hingga 92-95%. Hal ini menunjukkan komitmen PT Vale pada inovasi yang efektif di Jambore KTT Sulawesi Tengah.

Aspek keselamatan juga menjadi prioritas. Untuk mengurangi risiko kecelakaan, terutama yang disebabkan oleh kelelahan operator dump truck, PT Vale menggunakan sistem Defender. “Semua dump truck itu ada kamera, kamera fatigue. Ini bukan buat mencari kesalahan orang, tapi menjaga orang agar tetap aware,” kata Sarjan. Sistem ini akan memberikan alarm jika operator menunjukkan tanda-tanda kelelahan atau melakukan pelanggaran lainnya seperti tidak memakai sabuk pengaman atau merokok.

Selain itu, PT Vale juga fokus pada pengembangan sumber daya manusia lokal. Dari total 2.500 karyawan di Morowali, 1.038 di antaranya adalah karyawan lokal. “Namun mungkin masih ada beberapa kendala sehingga target kami yang 70% karyawan lokal itu sampai sekarang belum tercapai,” ujarnya.

Dalam aspek lingkungan, PT Vale mengelola air limpasan tambang dengan tiga sediment pond utama, termasuk SP4 seluas 10 hektar. Perusahaan juga berkomitmen pada pengelolaan sampah dan limbah B3, serta mengembangkan inisiatif zero waste landfill dengan target 96% progres dan pirolisis akan beroperasi normal di awal tahun depan. Pengendalian pencemaran udara dilakukan melalui penyiraman jalan, pemasangan dust net, dan pembatasan kecepatan kendaraan.

PT Vale juga memiliki fasilitas penyemaian (nursery) yang beroperasi sejak 2025 dengan kapasitas 400.000 bibit per tahun. Bibit-bibit ini tidak hanya untuk kebutuhan reklamasi tambang, tetapi juga dibagikan kepada pemerintah daerah, sekolah, dan masyarakat. Upaya reklamasi dan rehabilitasi telah merealisasikan penanaman ulang sekitar 30 hektar area tambang dan rehabilitasi sungai seperti Sungai Baho Panggala.

“Kami berkomitmen untuk terus beroperasi dengan standar tertinggi, baik dari sisi produksi maupun keberlanjutan,” tutup Sarjan, menegaskan peran aktif PT Vale dalam mendukung praktik pertambangan yang bertanggung jawab di Jambore KTT Sulawesi Tengah 2026.AWA