PALU, HAWA – Universitas Tadulako (Untad) dan PT Vale Indonesia Tbk menjalin kerja sama strategis untuk memperkuat rehabilitasi DAS Sulawesi Tengah. Kolaborasi ini juga bertujuan mendorong kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Sulawesi Tengah (Sulteng) sebagai living laboratory untuk pendidikan, penelitian, dan pengembangan inovasi kehutanan.

Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) ini dilaksanakan di Ruang Rektor Untad pada Jumat (18/9/2026), menandai komitmen kedua belah pihak. Program rehabilitasi DAS Sulawesi Tengah menjadi salah satu implementasi utama kerja sama ini, mencakup berbagai tahapan penting.

Tahapan-tahapan tersebut meliputi verifikasi lokasi, sosialisasi, penyusunan rencana kegiatan penanaman, hingga pengawasan teknis. Selain itu, penilaian kuantitas dan kualitas tanaman, geotagging, serta persiapan serah terima tanaman juga menjadi bagian integral dari program rehabilitasi DAS Sulawesi Tengah ini. Fokus utama adalah pada pemulihan ekosistem sungai di wilayah tersebut.

“Penandatanganan PKS ini sebenarnya bukan sekadar kerja sama administratif. Harapan kita tentunya ada komitmen nyata untuk memulihkan dan menjaga lingkungan Sulawesi Tengah,” kata Rektor Untad, Prof. Dr. Ir. Amar, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng.

Menurut Amar, kerja sama ini harus menghasilkan komitmen nyata dalam pemulihan dan perlindungan lingkungan. Ia juga melihat peluang besar untuk mengembangkan kawasan Tahura Sulteng sebagai hutan akademik Fakultas Kehutanan Untad melalui program rehabilitasi DAS Sulawesi Tengah.

“Harapan kita nanti ini bisa menjadi hutan akademik dari Fakultas Kehutanan Untad untuk dikelola. Ini juga bisa menjadi living laboratory atau legacy bagi pendidikan, penelitian, dan pengembangan inovasi kehutanan,” jelasnya.

Amar menekankan bahwa keberhasilan rehabilitasi DAS Sulawesi Tengah tidak hanya diukur dari luas lahan yang ditanami. Kondisi tanaman pasca-penanaman, kemampuan tumbuh, bertahan, dan fungsi ekologisnya juga merupakan perhatian penting. Oleh karena itu, aspek pemeliharaan, monitoring, kualitas bibit, dan tingkat keberhasilan tanaman menjadi poin krusial dalam pelaksanaan program.

Sementara itu, Head of External Relations Regional & Growth dan Head of HSOR PT Vale Indonesia Tbk, Endra Kusuma, menyampaikan bahwa MoU ini memiliki cakupan lebih luas dari sekadar rehabilitasi DAS Sulawesi Tengah. Kolaborasi ini juga mencakup pengembangan sumber daya manusia, pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta bidang-bidang lain yang dapat dikembangkan bersama.

“MoU ini tidak hanya terbatas pada rehabilitasi DAS. Kerja sama ini mencakup pengembangan sumber daya manusia dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta bidang-bidang lainnya,” ujar Endra.

PT Vale juga membuka peluang pengembangan kerja sama dalam bidang penelitian dan pemberdayaan masyarakat, termasuk sektor pertanian, peternakan, dan lingkungan. Dukungan riset dari perguruan tinggi sangat dibutuhkan untuk berbagai program perusahaan.

“Kami menyadari bahwa kami tidak bisa berdiri sendiri. Kami merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tentunya membutuhkan dukungan dari rekan-rekan di dunia akademik, terutama universitas,” katanya.

Mewakili Dekan Fakultas Kehutanan Untad, Wakil Dekan Bidang Akademik, Dr. Ir. Sudirman, S.Hut., M.Sc., menyatakan kesiapan Fakultas Kehutanan mengemban amanah kerja sama ini. Meskipun awalnya PKS terkait dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Untad, substansi program yang erat kaitannya dengan lingkungan dan kehutanan membuat pelaksanaannya diamanahkan kepada Fakultas Kehutanan.

“Karena ini sifatnya mandat, kami dari Fakultas Kehutanan dengan sepenuh hati bersedia untuk melaksanakan kegiatan ini, meskipun tentu ada beberapa tantangan yang harus kita hadapi,” ujarnya.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Febrin Sitorus, Environment & Sustainability Risk Operations, serta Charles Andrianto selaku Project Manager Watershed Rehabilitation dari PT Vale Indonesia Tbk.AWA