JENEWA, HAWA – Presentasi Chief Technology Officer (CTO) Amazon, Werner Vogels, di acara AI for Good Global Summit 2026 di Jenewa, Swiss, pada 8 Juli 2026, diwarnai interupsi. Sekelompok aktivis pro-Palestina menerobos panggung, menuntut pembatalan Project Nimbus, sebuah kontrak cloud computing dan AI antara Amazon, Google, dan Pemerintah Israel.

Para aktivis membentangkan spanduk bertuliskan “No Tech for Apartheid” dan meneriakkan “Drop Project Nimbus!”. Mereka menuduh Amazon menyediakan infrastruktur cloud dan AI yang digunakan oleh militer Israel untuk sistem penargetan seperti Lavender dan Where’s Daddy, yang disebut-sebut memfasilitasi pembunuhan warga sipil Palestina di Gaza.

Salah satu aktivis secara langsung menuding Vogels. “Anda sedang membuat Project Nimbus, proyek miliaran dolar yang diinvestasikan Amazon agar Israel mendapat akses bebas ke server Anda. Anda menginvestasikan miliaran di situ. Teknologi Anda, Project Nimbus, mengembangkan Lavender, mengembangkan perangkat lunak Where’s Daddy yang secara aktif melacak, menggunakan AI, orang-orang di Palestina, dan ketika mereka kembali, mereka dibunuh bersama keluarga mereka,” kata aktivis tersebut.

Aktivis melanjutkan tudingannya, “Dan Anda tahu ini. Anda tahu ini, Werner Vogels, dan Anda menghasilkan jutaan dari ini. Anda duduk di sini seolah-olah berusaha berbuat baik, seolah-olah mendukung AI untuk kebaikan. Apa yang ingin Anda katakan? Bagaimana Anda bisa tidur nyenyak di malam hari? Mungkin itulah sebabnya Anda terlihat panik. Mungkin itulah sebabnya Anda bahkan tidak sanggup berdiri di panggung ini dan menatap orang-orang ini, karena Anda tahu persis untuk apa teknologi Anda digunakan.”

Vogels terlihat berdiri dengan tangan di pinggang sebelum akhirnya meninggalkan panggung. Petugas keamanan kemudian menarik aktivis keluar, dengan salah satu aktivis dilaporkan dipasang ‘chokehold’ saat digiring. Insiden ini menyebabkan acara sempat terhenti sementara.

Project Nimbus adalah kontrak senilai sekitar 1,2 miliar dolar AS (setara Rp19,2 triliun) antara Amazon Web Services (AWS), Google Cloud, dan Pemerintah Israel. Kontrak ini ditandatangani pada April 2021 dan diperkirakan berjalan hingga 2028, mencakup layanan cloud, AI, dan machine learning untuk sektor publik Israel, termasuk lembaga pertahanan dan keamanan.

Aktivis menyoroti sistem AI militer Israel seperti Lavender dan Where’s Daddy. Lavender adalah sistem machine learning yang memberikan skor kemungkinan afiliasi seseorang dengan kelompok bersenjata di Gaza. Sementara itu, Where’s Daddy adalah sistem pelacakan berbasis lokasi ponsel yang memberikan peringatan ketika target yang sudah ditandai memasuki lokasi tertentu, seringkali rumah keluarga, untuk kemudian diserang.

Kelompok hak asasi manusia dan investigasi media independen, seperti +972 Magazine, telah melaporkan penggunaan sistem-sistem ini secara massal di Gaza sejak akhir 2023, dengan tuduhan tingkat kesalahan tinggi dan korban sipil yang besar. Tuduhan ini menjadi dasar protes terhadap Project Nimbus.

Sejak 2021, karyawan Amazon dan Google telah menyuarakan protes terkait Project Nimbus. Pada Desember 2025, lebih dari 1.000 karyawan Amazon menandatangani surat terbuka yang memperingatkan tentang potensi dampak negatif AI dan menuntut agar teknologi Amazon tidak digunakan untuk kekerasan atau pengawasan massal. Amazon dan Google secara resmi menyatakan bahwa Nimbus ditujukan untuk beban kerja komersial pemerintah Israel dan tidak diarahkan pada beban kerja militer yang sensitif. Namun, dokumen internal Google yang bocor pada 2024–2025 menunjukkan kekhawatiran pra-kontrak mengenai risiko pelanggaran hak asasi manusia.

Insiden di AI for Good Global Summit ini menambah tekanan internasional terhadap perusahaan teknologi yang terlibat dalam Project Nimbus, menyoroti perdebatan etika dan moral seputar penggunaan AI dalam konteks konflik militer.