AMPANA, HAWA – Ketua Bidang Perempuan dan Keluarga DPW PKS Sulawesi Tengah, Hj. Wiwik Jumatul Rofi’ah, S.Ag., M.H., mengajak pengurus dan kader PKS Kabupaten Tojo Una-Una memperkuat ketahanan keluarga di tengah tantangan era digital. Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan Penguatan Nilai Ketahanan Keluarga yang digelar Bidang Perempuan dan Keluarga (Bipeka) DPD PKS Tojo Una-Una di Kota Ampana, Sabtu (7/11).

Dalam kegiatan tersebut, Wiwik yang akrab disapa Bunda Wiwik membawakan materi bertajuk “Membangun Ketahanan Keluarga di Era Digital” melalui pendekatan Gerakan Pengarusutamaan Keluarga (PUK). Ia menekankan bahwa keluarga merupakan fondasi pembentukan karakter manusia sekaligus salah satu faktor penting dalam membangun kualitas kehidupan masyarakat.

Menurut Bunda Wiwik, perkembangan teknologi digital memberikan kemudahan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga menghadirkan tantangan terhadap hubungan antaranggota keluarga, terutama komunikasi antara orang tua dan anak.

“Jangan sampai rumah kita memiliki jaringan internet yang kuat, tetapi hubungan antaranggota keluarga justru semakin lemah,” ujarnya saat menyampaikan materi.

Ia menjelaskan, ketahanan keluarga bukan berarti keluarga terbebas dari persoalan. Keluarga tangguh adalah keluarga yang mampu mengelola sumber daya, menghadapi tantangan, menyelesaikan konflik, menjaga keharmonisan, dan menjalankan fungsi keluarga secara optimal.

Bunda Wiwik menguraikan lima dimensi ketahanan keluarga, yakni spiritual dan moral, psikologis, ekonomi, sosial, serta digital. Kelima dimensi tersebut, menurutnya, perlu dibangun secara seimbang agar keluarga mampu menghadapi perubahan sosial tanpa kehilangan nilai agama, akhlak, dan budaya.

INGATKAN ANCAMAN KESENJANGAN DIGITAL DALAM KELUARGA

Dalam pemaparannya, Bunda Wiwik juga menyoroti meningkatnya penggunaan telepon pintar dan media sosial di lingkungan keluarga. Penggunaan teknologi tanpa pendampingan, kata dia, berpotensi mengurangi komunikasi keluarga, mengganggu konsentrasi belajar anak, meningkatkan paparan konten negatif, hingga memperlebar kesenjangan digital antargenerasi.

Karena itu, orang tua tidak cukup hanya membatasi penggunaan gawai, tetapi juga perlu memberikan teladan dalam memanfaatkan teknologi secara bijaksana.

“Jangan hanya bertanya berapa lama anak menggunakan gadget, tetapi tanyakan juga berapa lama kita hadir secara utuh dalam kehidupan anak,” pesannya.

Ia menawarkan tujuh strategi penguatan ketahanan keluarga, meliputi penguatan fondasi spiritual, pembangunan komunikasi berkualitas, penerapan pola asuh digital, keteladanan orang tua dalam penggunaan teknologi, penguatan ekonomi keluarga, peningkatan ketahanan sosial, serta pemeliharaan hubungan antargenerasi.

Dalam penerapan pola asuh digital, orang tua didorong menyusun kesepakatan penggunaan gawai, menetapkan waktu dan tempat bebas perangkat digital, mendampingi anak saat mengakses internet, serta mengajarkan perlindungan data pribadi. Keluarga juga perlu membangun kebiasaan berbicara bersama tanpa gangguan telepon genggam, beribadah bersama, dan menyelesaikan persoalan melalui musyawarah.

PENGARUSUTAMAAN KELUARGA HARUS MENJADI GERAKAN BERSAMA

Lebih lanjut, Bunda Wiwik memperkenalkan Gerakan Pengarusutamaan Keluarga (PUK) sebagai pendekatan yang menempatkan kepentingan dan perspektif keluarga dalam kebijakan, program, serta aktivitas pembangunan.

Ia mengaitkan ketahanan keluarga dengan berbagai persoalan sosial, seperti kemiskinan, stunting, anak putus sekolah, kekerasan terhadap perempuan dan anak, penyalahgunaan narkoba, hingga perundungan siber. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan kolaborasi keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, organisasi sosial, dan pemerintah.

“Ketahanan keluarga bukan hanya urusan perempuan. Ayah, ibu, anak, masyarakat, dan pemerintah memiliki tanggung jawab bersama,” tegasnya.

Ia juga mendorong seluruh struktur PKS, baik di tingkat wilayah maupun daerah, untuk menggerakkan edukasi keluarga, membentuk komunitas keluarga tangguh, serta membangun kemitraan dengan sekolah, majelis taklim, dan organisasi masyarakat.

Bunda Wiwik mengajak pengurus dan anggota PKS memulai penerapan nilai ketahanan keluarga dari lingkungan rumah masing-masing. Menurutnya, keberhasilan gerakan tersebut tidak cukup diukur dari jumlah kegiatan sosialisasi, tetapi juga dari perubahan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

“PUK harus bergerak dari rumah, tumbuh di masyarakat, diperkuat oleh kebijakan, dan menghasilkan perubahan bagi bangsa,” katanya.

KETUA DPD PKS TOUNA DORONG DIALOG LINTAS GENERASI

Sementara itu, Ketua DPD PKS Kabupaten Tojo Una-Una, Naser Haji Mohammad Naser, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan yang diikuti peserta dari berbagai kelompok usia. Ia menilai keterlibatan generasi muda bersama peserta yang lebih senior penting untuk membangun pemahaman mengenai ketahanan keluarga sejak sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.

“Ibu, Bapak dan Adik-adik sekalian, jangan takut untuk bertanya. Di forum-forum seperti inilah kita bisa menyaksikan atau merasakan langsung seperti apa itu dialog interaktif. Jadi harus mengambil bagian,” ujarnya.

Naser mengaku bersyukur karena kegiatan tersebut tidak hanya diikuti kalangan orang tua, tetapi juga generasi muda yang kelak akan membangun keluarga. Ia berharap keikutsertaan mereka menjadi bekal dalam mempersiapkan kehidupan rumah tangga.

Ia juga mengapresiasi kehadiran unsur Kantor Urusan Agama (KUA) yang dinilai memiliki keterkaitan langsung dengan pembinaan keluarga dan kehidupan perkawinan.

Naser menegaskan bahwa kegiatan tersebut diarahkan sebagai ruang pendidikan dan penguatan nilai keluarga, bukan aktivitas politik elektoral.

“Kalau kita mau berbicara kampanye, itu butuh waktunya. Jadi hari ini yang kita kampanyekan bagaimana membangun atau membina keluarga itu,” ungkapnya.

Ia berharap peserta memanfaatkan forum tersebut untuk berdiskusi, bertanya, dan menyerap pengetahuan yang dapat diterapkan dalam kehidupan keluarga maupun kegiatan pembinaan masyarakat.