JAKARTA, HAWA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengeluarkan peringatan dini BMKG terkait ancaman cuaca ekstrem yang dipicu dua sirkulasi siklonik pada 10/06. Fenomena ini berpotensi menyebabkan hujan lebat dan gelombang tinggi di wilayah Maluku, Papua, hingga Kalimantan. Kondisi atmosfer yang tidak stabil ini memerlukan kewaspadaan tinggi dari masyarakat setempat.
Pihak otoritas mendeteksi adanya gangguan atmosfer aktif di sekitar Laut Seram dan Samudra Pasifik bagian barat. Kondisi tersebut memicu pertumbuhan awan hujan yang masif serta peningkatan kecepatan angin permukaan di wilayah pesisir timur Indonesia. Masyarakat diminta bersiaga menghadapi kemungkinan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.
Informasi terbaru dari laman resmi BMKG menunjukkan intensitas hujan bisa melebihi 50 mm per hari. Peringatan dini BMKG ini juga mencakup wilayah Kalimantan Utara yang mengalami anomali cuaca meski sebagian besar Indonesia sudah masuk musim kemarau. Kecepatan angin di pesisir diperkirakan mencapai 40 hingga 60 km per jam.
“Fenomena sirkulasi siklonik ini meningkatkan potensi hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi di sejumlah wilayah. Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan banjir dan longsor, serta bagi nelayan agar memperhatikan kondisi gelombang laut sebelum melaut,” kata Dwikorita Karnawati, Kepala BMKG.
Gelombang laut setinggi 2,5 sampai 4 meter mengancam perairan Laut Arafura dan utara Papua hari ini. Hal ini menjadi risiko serius bagi transportasi laut dan aktivitas ekonomi perikanan rakyat. Nelayan diimbau untuk terus memantau perkembangan cuaca melalui kanal resmi sebelum memutuskan berlayar ke tengah laut.
“Meskipun sebagian besar wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau, anomali cuaca masih terjadi. Hal ini disebabkan oleh dinamika atmosfer global yang memengaruhi pola hujan di beberapa daerah,” kata Guswanto, Deputi Bidang Meteorologi BMKG.
Saat ini tercatat sekitar 28,6 persen zona musim di Indonesia telah memasuki kemarau khususnya di wilayah bagian selatan. Namun ketidakstabilan atmosfer tetap membuat peringatan dini BMKG menjadi rujukan utama untuk langkah mitigasi bencana di daerah terdampak. Koordinasi antar lembaga terus diperkuat guna meminimalisir dampak risiko cuaca ekstrem tersebut.*/LIA