PALU, HAWA – Kesejahteraan tenaga kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Undata Palu menghadapi tantangan serius setelah insentif jasa pelayanan mereka tertahan sejak April 2026. Kondisi ini membuat para tenaga medis terpaksa menggadaikan kendaraan dan mencari pinjaman demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, di tengah beban kerja yang tinggi.
Menanggapi keluhan terkait insentif nakes tertahan tersebut, Anggota Komisi IV DPRD Sulawesi Tengah, Marselinus, langsung melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah ruang pelayanan medis pada Selasa, 11/08/2026. Peninjauan ini bertujuan untuk memahami lebih dalam dampak tertundanya pembayaran insentif nakes tertahan terhadap stabilitas layanan rumah sakit.
Dalam inspeksi tersebut, Marselinus menemukan fakta bahwa banyak pekerja medis, yang merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan, menghadapi tekanan ekonomi yang besar akibat insentif nakes tertahan. Padahal, mereka adalah garda terdepan yang berinteraksi langsung dengan masyarakat.
“Mereka sudah menerima makian, bahkan ada yang diludahi dan ditendang, tetapi tetap sabar memberikan pelayanan. Ketika jumlah pasien semakin banyak, justru kesejahteraan tenaga medis atau tenaga pelayanan semakin menurun,” kata Marselinus memaparkan temuannya pada Rabu, 12/08/2026.
Legislator dari Partai Perindo itu juga menyoroti adanya indikasi ketidakadilan dalam mekanisme penghitungan remunerasi oleh manajemen RSUD Undata. Diduga, pendapatan rumah sakit diprioritaskan untuk menutupi jasa petinggi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) yang mencapai puluhan juta rupiah, sementara porsi bagi pekerja medis menyusut drastis. Hal ini semakin memperparah kondisi insentif nakes tertahan.