PALU, HAWA – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah menjadi perhatian serius DPRD Sulteng. Selain mengancam kelestarian lingkungan, Karhutla Sulteng dinilai berpotensi besar mengganggu sektor pertanian dan program pemerintah dalam memperkuat ketahanan serta swasembada pangan.
Wakil Ketua Komisi III DPRD Sulteng, H. Zainal Abidin Ishak, menyatakan bahwa kejadian kebakaran sebenarnya telah diantisipasi sejak awal. Namun, kondisi alam seperti kekeringan, tetap menjadi faktor utama yang dapat meningkatkan risiko terjadinya Karhutla Sulteng.
Menurut Zainal, pemerintah daerah perlu memperkuat kesiapsiagaan, termasuk memastikan fasilitas pemadaman tersedia dan dapat digunakan secara cepat ketika Karhutla Sulteng terjadi. Hal ini krusial untuk meminimalisir dampak lebih luas.
“Kalau terjadi kejadian alam seperti itu, berarti ada kelalaian manusia. Oleh karena itu, fasilitas daerah harus dipersiapkan untuk pemadaman,” kata H. Zainal Abidin Ishak, Wakil Ketua Komisi III DPRD Sulteng.
Salah satu langkah penting yang harus dilakukan pemerintah, kata Zainal, adalah memastikan ketersediaan dan kondisi jaringan irigasi tetap baik. Perbaikan irigasi sangat vital untuk menjaga produktivitas pertanian dari ancaman Karhutla Sulteng dan kekeringan.
“Nah, makanya itu kita harus mengantisipasi. Irigasi kita harus memperbaiki dan lain sebagainya,” ujarnya.
Ia menambahkan, Komisi III DPRD Sulteng terus mendorong Dinas Sumber Daya Air (SDA) untuk memperbaiki jaringan irigasi yang kondisinya sudah tidak optimal. Perbaikan infrastruktur ini diharapkan dapat menopang sektor pertanian.
Zainal menyebut, tingkat produksi pertanian saat ini rata-rata baru berada di kisaran 60 persen. Kondisi tersebut dinilai masih perlu ditingkatkan untuk mendukung target ketahanan pangan di tengah ancaman Karhutla Sulteng.
“Kita berharap bisa naik sampai 80 persen. Maka harus ada pembiayaan, rehab-rehab irigasi kembali,” tegas Zainal Abidin Ishak.
Menurutnya, perbaikan irigasi menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas pertanian, terutama di tengah ancaman kekeringan dan kebakaran yang dapat mengganggu lahan pertanian akibat Karhutla Sulteng.