Wayamasapi, Tradisi Orang Poso yang ‘Dipaksa’ Punah

featured
Wayamasapi disekitar jembatan Yondompamona kota Tentena salah satu kearifan lokal dalam menangkap ikan yang dilakukan warga Poso kini dipaksa punah oleh aktivitas perusahaan Poso Energy. FOTO : KARTINI NAINGGOLAN
service
Bagikan

Share This Post

or copy the link

, HAWA.ID –   salah satu kearifan lokal dalam menangkap ikan  yang dilakukan warga kini dipaksa punah oleh aktivitas perusahaan Energy.

Danau Poso kaya akan keanekaragaman hayati, termasuk ikan migrasi Sidat yang oleh masyarakat Pamona Poso menyebutnya Sogili atau Masapi. Sejak ratusan tahun, menangkap ikan dengan menggunakan pagar sogili atau sudah diJadikan tradisi turun temurun. Saat ini, tradisi itu sudah ada pada generasi ke 3.

Fredy Kalengke, warga Poso yang merupakan generasi ke 3 penerus tradisi Wayamasapi mengatakan, sebelum adanya proyek  Poso River improvement atau proyek pengerukan dasar mulut danau Poso oleh PT Poso Energy kearah sungai Poso sepanjang 12,8 kilometer, ada ratusan Wayamasapi di sekitar danau Poso tepatnya di kota , kecamatan Poso Puselemba.

Namun setelah aktivitas pengerukan, kata dia, tradisi ini dipaksa punah. Hanya meninggalkan 3 Wayamasapi disekitar jembatan Yondompamona kota .

“Sebelum pengerukan, Wayanasapi disekitar Yondompamona kota ada ratusan. Tapi sekarang sudah hilang karena pengerukan,” kata Fredy.

Menurutnya, Wayamasapi banyak yang rusak karena aktivitas pengerukan, bahkan sengajah dirusak oleh oknum pekerja perusahaan yang melakukan pengerukan.

“Saya memilih untuk tetap mempertahankan Wayamasapi karena ini warisan leluhur kami yang ada sejak ratusan tahun. Kalau saya menyerah dan membiarkan perusahaan mengambil alih, maka tradisi Wayamasapi tinggal nama dan hanya akan menjadi sejarah,” ujarnya.

Fredy bercerita bahwa sudah beberapa kali pihak perusahaan melakukan negosiasi agar Wayamasapi miliknya diberikan komponsasi, seperti yang diberikan kepada pemilih Wayamasapi lainnya. Namun tawaran itu ditolak mengingat tradisi itu merupakan warisan leluhur  yang seharusnya dipertahankan.

“Kalau pagar sogili atau Wayamasapi tarakhir milik kami akhirnya diambil alih dan dibongkar karena kepentingan pengerukan, makan tradisi ini tidak akan didapat lagi. Silahkan cari dimana ada tradisi pagar bambu semacam ini di Indonesia. Tradisi ini hanya ada di Tentena,” kata Fredy.

Sementara itu, Sritati Rakota warga kota Tentena mengatakan, selain warisan leluhur, tradisi Wayamasapi secara turun-temurun menjadi penopang warga.

“Dari hasil tangkapan di Wayamasapi, saya bisa menyekolahkan anak saya sampai ke bangku kuliah. Begitu juga dengan warga lain yang saat ini Wayamasapi milik mereka sudah diberikan kompensasi oleh perusahaan,” ujarnya.

Sebelumnya, pihak perusahaan menawarkan kompensasi kepada pemilik Wayamasapi. Namun Sritati menolak karena nilainya tidak sesuai dengan yang ditawarkan.

Menurutnya, pemilik Wayamasapi yang setuju dengan tawaran dari perusahaan, mendapatkan kompensasi satu unit sebesar Rp. 325 juta untuk 9 orang. Karena dalam satu unit Wayamasapi ada satu kelompok yang terdiri dari 9 orang.

“Hanya suami saya pak Fredy yang menolah kompensasi. Kami sebelumnya menawarkan Rp 8,6 Miliar dengan perhitungan penghasilan 5 kg per hari. Tapi tawaran kami ditolak,” kata Sritati.

Ditempat berbeda, ketua dewan adat kelurahan Pamona, Kritian Bontinge mengaku pesimis tradisi Wayamasapi akan bertahan walaupun Fredy sebagai satu-satunya pemilik yang tetap bertahan. Meskipun ada yang menolak, pekerjaan pengerukan akan tetap berjalan. Aktivitas itu secara masif akan merusak Wayamasapi, mengingat dasar danau yang lebar wilayah yang dikeruk 40 meter dengan kedalaman 4 sampai 6 meter akan mempengaruhi arus air dalam danau yang tentu akan merusak pagar bambu.

“Wayamasapi akan hancur dengan sendirinya. Walaupun pak Fredy satu-satunya menolak, aktivitas pengerukan tetap akan dilakukan yang berakibat pagar Wayamasapi akan terangkat atau rusak,” ujarnya.

Sebagai bagian dari aliansi penyelamat danau Poso, Kristian tidak bisa menyalakan masyarakat jika terpaksa kalah, apalagi kekalahan itu menyangkut kepentingan hidup mereka. Bukan hanya dipaksa kalah, tradisi Wayamasapi juga dipaksa punah karena kepentingan perusahaan yang ikut didukung oleh pemerintah.

“Selama ini pemerintah tidak pernah berpihak kepada pentingan masyarakat di Poso,” ujarnya.

Penambahan kedalaman di danau Poso yang dilakukan PT. Poso Energy dibutuhkan perusahaan untuk menambah debit air guna memutar 3 turbin berkapasitas 195 Megawatt mereka yang terpasang di proyek PLTA Poso II dan sedikit lagi akan memutar 4 turbin berkapasitas masing-masing 30 megawatt dan nantinya disebut-sebut akan ada lagi 4 turbin masing-masing akan menghasilkan listrik 50 megawatt.ECA

0
happy
Happy
0
sedih
Sedih
0
marah
Marah
0
wow
Wow
0
peduli
Peduli
Wayamasapi, Tradisi Orang Poso yang ‘Dipaksa’ Punah

You Can Subscribe To Our Newsletter Completely Free

Don't miss the opportunity to be informed about new news and start your free e-mail subscription now.
Subscribe
Notify of
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments
Login

Masuk atau Buat akun untuk bergabung bersama HAWA!

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Join Us