SELAYAR, HAWA – Musibah tenggelamnya KM Nurul Salsa di perairan Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, terus menyita perhatian. Istana turut berduka dan meminta Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) untuk memaksimalkan pencarian 18 korban yang masih dinyatakan hilang hingga 21 Juli 2026.

Kapal KM Nurul Salsa dilaporkan mengalami mati mesin dan kebocoran lambung sebelum akhirnya tenggelam di perairan barat Pulau Polassi, sekitar 43 nautical mile dari Pelabuhan Benteng Selayar. Insiden nahas ini terjadi sekitar 14-15 Juli 2026, saat kapal berlayar dari Pulau Jampea menuju Pelabuhan Benteng Selayar. Kondisi cuaca dan gelombang laut yang kurang bersahabat diyakini turut memperparah situasi.

Data korban terus mengalami pembaruan sejak awal kejadian. Basarnas Makassar menyatakan total orang di kapal adalah 78 orang. Dari jumlah tersebut, 59 orang berhasil ditemukan selamat, dan 1 orang ditemukan meninggal dunia. Ini berarti, tim SAR gabungan masih harus mencari 18 orang lainnya. Sebelumnya, data sempat menunjukkan angka yang berbeda, seperti 52 selamat dan 25 hilang, yang menunjukkan dinamika proses verifikasi di lapangan.

Tim SAR gabungan, yang terdiri dari Basarnas, pemerintah daerah, kapal nelayan, KRI Marlin-877, serta unsur lainnya, terus melakukan operasi pencarian intensif. Area pencarian diperluas hingga ke sekitar Pulau Sabalana, Kepulauan Pangkep, dan Laut Flores, seiring dengan ditemukannya korban selamat yang terdampar di pulau-pulau kecil.

“Total penumpang yang berada di kapal tercatat sebanyak 78 orang,” kata Basarnas Makassar, sebagaimana dikutip MetroTV pada 20 Juli 2026.

Pembaruan terkini pada 21 Juli 2026 menyebutkan dua penumpang kembali ditemukan selamat di Pulau Balaloho. “Dengan ditemukannya dua korban tersebut, korban KM Nurul Salsa yang dinyatakan selamat menjadi 59 orang, meninggal dunia satu orang dan masih dalam pencarian 18 orang korban,” tulis CNN Indonesia. Kompas TV juga mengonfirmasi, “Tim pencarian dan pertolongan atau search and rescue (SAR) gabungan masih mencari 18 penumpang kapal KM Nurul Salsa.”

Kasus tenggelamnya KM Nurul Salsa juga menyoroti ketidaksesuaian data manifest dengan jumlah penumpang riil di lapangan. Hal ini menjadi perhatian serius yang dapat memengaruhi upaya penyelamatan dan akurasi data korban. Perhatian Istana menegaskan skala insiden ini bukan lagi hanya kecelakaan lokal, melainkan isu nasional yang membutuhkan penanganan maksimal dari seluruh pihak terkait.*/LIA