SIGI, HAWA – Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), Anwar Hafid, langsung meninjau lokasi terdampak gempa bumi di lima desa Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi pada 17 Juni. Kunjungan ini menyalurkan Bantuan Gempa Sigi darurat berupa tenda, selimut, dan pasokan air bersih bagi sekitar 550 Kepala Keluarga yang tempat tinggalnya terdampak.

Dalam peninjauan tersebut, Gubernur didampingi oleh Kapolda Sulteng, Pangdam, perwakilan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana Pusat, Danrem, serta unsur Forkopimda lainnya. Rombongan tidak hanya meninjau lapangan, tetapi juga menggelar rapat bersama para kepala desa untuk mendengarkan langsung kebutuhan mendesak masyarakat terdampak gempa Sigi.

Berdasarkan hasil pertemuan, warga terdampak gempa Sigi sangat membutuhkan air bersih, terpal atau tenda darurat, obat-obatan, selimut, serta kebutuhan khusus bagi anak-anak. Prioritas utama adalah penyediaan air bersih karena banyak sumber air warga yang tertutup material longsor pascagempa.

“Kami baru saja rapat dengan seluruh kepala desa. Masyarakat menyampaikan kebutuhan utama mereka adalah tenda karena masih takut tinggal di dalam rumah. Selain itu, mereka membutuhkan air minum bersih karena sumber air tertutup longsor, serta obat-obatan dan selimut untuk anak-anak,” kata Anwar Hafid.

Dari lima desa yang terdampak, Desa Kamarora B menjadi wilayah yang mengalami dampak paling signifikan akibat gempa Sigi ini. Trauma akibat gempa masih sangat dirasakan oleh warga, bahkan ada seorang ibu yang terpaksa melahirkan di tenda darurat karena masih dibayangi trauma bencana gempa besar tahun 2018.

Sebagai langkah tanggap darurat, Pemerintah Provinsi (Pemprov) segera menyalurkan 550 unit tenda terpal. Jumlah ini bahkan melebihi kebutuhan saat ini sebagai langkah antisipasi jika terjadi perkembangan situasi. Selain itu, bantuan selimut dan tenda portable juga akan segera didistribusikan sebagai Bantuan Gempa Sigi.

Pemprov Sulteng juga menyalurkan sekitar 650 paket sembako untuk warga terdampak gempa Sigi. Data sementara menunjukkan sekitar 550 kepala keluarga mengalami kerusakan pada tempat tinggal mereka. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, Dinas Cipta Karya dan Sumber Daya Air (Cikasda) akan menyuplai air bersih setiap hari hingga kondisi sumber air warga kembali normal. Warga memilih tetap berada di sekitar rumah masing-masing dan tidak mengungsi secara kolektif untuk menjaga keamanan harta benda.

“Insya Allah sore ini seluruh kebutuhan darurat akan kami siapkan. Tahap awal yang paling penting adalah menyelamatkan masyarakat dan memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi,” tegas Anwar Hafid.

Pemprov saat ini sedang melakukan asesmen terhadap rumah-rumah warga untuk menentukan tingkat kerusakan, baik rusak ringan maupun rusak berat. Hasil asesmen ini akan menjadi dasar dalam penyusunan program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana gempa Sigi.

Dalam kesempatan itu, Gubernur mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan, namun tidak perlu panik. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), intensitas gempa susulan menunjukkan tren melemah dibandingkan saat awal kejadian gempa Sigi.

“Saya mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan memperhatikan situasi saat beraktivitas. Namun tidak perlu panik karena berdasarkan informasi BMKG, gempa susulan semakin melemah dan mudah-mudahan segera berakhir,” katanya.

Gubernur juga mengajak seluruh masyarakat Sulteng untuk mendoakan warga terdampak agar diberikan keselamatan dan kekuatan menghadapi musibah ini. Sementara itu, pemerintah daerah telah mengambil langkah antisipatif dengan meliburkan sementara kegiatan belajar mengajar di wilayah terdampak gempa Sigi.

Pemprov Sulteng bersama seluruh unsur terkait memastikan penanganan darurat bencana terus dilakukan secara maksimal hingga kondisi masyarakat kembali aman dan normal setelah peristiwa gempa Sigi ini.**