JAKARTA, HAWA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi menetapkan status peringatan dini kekeringan meteorologis kategori Awas di delapan provinsi Indonesia. Penetapan status Awas kekeringan ini berlaku untuk periode Dasarian II, yakni 11 hingga 20 Agustus 2026, seiring dengan prediksi bahwa fenomena El Nino akan bertahan hingga awal kuartal pertama tahun 2027 dengan intensitas yang sangat kuat.
Keputusan BMKG Tetapkan Status Awas Kekeringan ini diambil setelah 48,84 persen wilayah daratan Indonesia memasuki puncak musim kemarau pada bulan Agustus. Sebanyak 76,5 persen wilayah Indonesia atau 535 Zona Musim (ZOM) telah mengalami kondisi kemarau, menandakan urgensi penanganan dini terhadap dampak kekeringan yang meluas.
Delapan provinsi yang ditetapkan dalam status Awas kekeringan meliputi sebagian Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain itu, status Siaga dan Waspada juga meluas ke puluhan kabupaten dan kota di Pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua, menunjukkan cakupan masalah kekeringan yang signifikan.
“BMKG memprediksi fenomena El Nino akan bertahan setidaknya hingga awal kuartal pertama tahun 2027 dengan puncak intensitas melebihi kategori kuat,” kata RR. Rima Eryani, Kepala Biro Hukum, Hubungan Masyarakat, dan Kerja Sama BMKG.
Data BMKG menunjukkan Indeks Indian Ocean Dipole (IOD) pada Dasarian I Agustus 2026 berada di angka +0,457, sementara nilai SSTA (Sea Surface Temperature Anomaly) di wilayah Nino3,4 mencapai +2,77. Angka-angka ini menegaskan bahwa intensitas El Nino saat ini berada pada kategori sangat kuat, dengan 90,79 persen wilayah mengalami curah hujan kriteria rendah dan 87,28 persen memiliki sifat hujan bawah normal.
Untuk mengantisipasi dampak lebih lanjut dari kekeringan dan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), BMKG telah memperkuat langkah mitigasi. “BMKG memperkuat langkah mitigasi melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di berbagai wilayah prioritas Indonesia, sekaligus menggalang respons cepat dan terintegrasi dari seluruh pihak guna mengantisipasi lonjakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta kekeringan,” ujar Teuku Faisal Fathani, Kepala BMKG.
Dampak El Nino yang sangat kuat ini diperkirakan akan sangat terasa pada sektor pertanian. Penurunan produksi padi nasional akibat El Nino pada periode 1990-2024 berkisar antara 0,5 hingga 1,7 juta ton. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas adaptasi petani menjadi kunci penting. “Peningkatan kapasitas adaptasi petani menjadi salah satu kunci untuk menekan risiko tersebut. Upaya yang dapat dilakukan meliputi penguatan sistem informasi dan peringatan dini cuaca dan iklim, penyesuaian kalender tanam, penggunaan varietas toleran kekeringan atau berumur genjah, efisiensi penggunaan air, serta diversifikasi tanaman,” jelas Elza Sumarni, Peneliti Senior Bidang Bahaya dan Risiko Sektor Pertanian PPI ITB dan BRIN.
Masyarakat juga diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem saat masa peralihan menuju musim hujan. “Sementara memasuki masa peralihan menuju musim hujan, masyarakat perlu mewaspadai potensi cuaca ekstrem, seperti hujan lebat dan angin kencang,” tutur Dr. A Fachri Radjab, Direktur Perubahan Iklim BMKG.