JAKARTA, HAWA – Memilih jurusan kuliah yang tepat adalah langkah krusial bagi calon mahasiswa. Selain minat dan bakat, prospek pekerjaan setelah lulus juga menjadi pertimbangan utama. Sayangnya, data terbaru dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menunjukkan peningkatan tingkat pengangguran terbuka (TPT) bagi lulusan S1, khususnya pada beberapa jurusan kuliah pengangguran terbanyak di Indonesia.

Penelitian LPEM FEB UI, yang tertuang dalam Labor Market Brief Volume 7 Nomor 7, menyoroti tren peningkatan TPT penduduk dengan pendidikan minimal S1 dalam tiga tahun terakhir. Laporan berjudul ‘Ketika Akses Pendidikan Tinggi Bertambah, Apakah Pasar Kerja Siap?’ ini ditulis oleh Muhammad Hanri, Ph.D., dan Nia Kurnia Sholihah, M.E.

Data yang diolah dari Sakernas menunjukkan TPT lulusan S1 meningkat dari 4,80 persen pada 2022 menjadi 5,18 persen pada 2023. Angka ini terus naik hingga 5,25 persen pada 2024 dan diperkirakan mencapai 5,39 persen pada 2025. Fakta ini menegaskan pentingnya mempertimbangkan prospek kerja saat memilih jurusan kuliah.

Berdasarkan bidang studi pendidikan terakhir, lulusan Manajemen menjadi kelompok dengan proporsi tertinggi di antara penganggur berpendidikan minimal S1, mencapai sekitar 10,3 persen. Temuan ini menjadi perhatian serius bagi para calon mahasiswa yang ingin menghindari jurusan kuliah pengangguran terbanyak.

Berikut adalah daftar jurusan kuliah pengangguran terbanyak di Indonesia berdasarkan laporan dari LPEM FEB UI:

  • Manajemen: 10,3 persen
  • Hukum: 9,0 persen
  • Ekonomi: 8,7 persen
  • Pendidikan: 7,1 persen
  • Akuntansi: 5,1 persen

Kelima bidang studi tersebut secara akumulatif berkontribusi hingga 40 persen dari total penganggur berpendidikan minimal S1. Selain itu, lulusan Ilmu Komputer atau Informatika juga menyumbang sekitar 4,6 persen dari angka pengangguran lulusan S1, menunjukkan bahwa bahkan bidang teknologi pun tidak lepas dari tantangan ini.

Para peneliti menjelaskan bahwa tingginya proporsi lulusan dari bidang studi tersebut tidak selalu mencerminkan prospek kerja yang buruk secara fundamental. Banyak faktor lain yang turut memengaruhinya, termasuk jumlah lulusan yang sangat besar dari jurusan kuliah pengangguran terbanyak ini.

Sebagai contoh, bidang studi Manajemen, Akuntansi, dan Administrasi Bisnis tersedia di banyak perguruan tinggi dan menghasilkan jumlah lulusan yang masif. Hal ini menyebabkan persaingan ketat di pasar kerja, di mana lulusan bersaing dengan berbagai latar belakang untuk posisi awal yang relatif umum. Ini menjadi salah satu alasan mengapa jurusan-jurusan ini masuk dalam kategori jurusan kuliah pengangguran terbanyak.

Kondisi serupa juga terjadi pada lulusan Hukum dan Ekonomi. Meskipun memiliki jalur profesi yang relatif jelas, tidak semua lulusan dapat bekerja sesuai bidang studinya dan sebagian besar bersaing di pasar kerja umum, seperti perusahaan, perbankan, pemerintahan, administrasi, konsultasi, dan layanan profesional.

Sementara itu, lulusan Pendidikan menghadapi tantangan ketersediaan formasi, kebutuhan sekolah antarwilayah, serta persyaratan profesi. Untuk Ilmu Komputer atau Informatika, tingginya angka pengangguran dipengaruhi oleh kesesuaian keterampilan praktis, pengalaman, mutu pendidikan, dan kebutuhan teknologi spesifik perusahaan yang terus berkembang pesat.

Memahami daftar jurusan kuliah pengangguran terbanyak ini diharapkan dapat memberikan gambaran bagi calon mahasiswa. Informasi ini penting agar mereka dapat membuat keputusan yang lebih tepat dan strategis dalam menentukan pilihan studi yang akan memengaruhi masa depan karier mereka.***