MORUT, HAWA.ID – Ketua Fraksi Abdul Karim Aljufri bersama Tim gabungan dari komisi III dan IV, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah () Provinsi Sulawesi Tengah () melakukan kunjungan kerja ke enam perusahaan tambang di kabupaten Morowali dan kabupaten Morowali Utara (Morut).

Dalam kunjungannya ke Morut dan Morowali, Karim Aljufri bersama rombongan Sulteng juga menemui sejumlah perusahaan di PT Trinusa Dharma Utama (TDU), PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) dan PT Bukit Makmur Istindo Nikeltama (Bumanik).

Di GNI, pihaknya tidak menemukan mes tenaga kerja asing dengan model kontainer dan tidak ada juga karyawan yang makan sambil gelantungan seperti disampaikan pejabat setempat.

Sementara di PT Bumanik, Abdul Karim mempertanyakan perihal kecelakaan kerja yang berakibat satu orang meninggal dunia, sekaligus menanyakan apa yang sudah diberikan oleh perusahaan kepada warga di lingkar tambang.

“Alhamdulillah mereka memberikan proyek-proyek kecil untuk desa sekitar, truk untuk menyiram jalan supaya tidak berdebu,” katanya.

Di sela-sela kunjungan , Karim Aljufri juga menyempatkan untuk hadir memberikan arahan dan sekaligus menutup Rapat Kerja Cabang Morut di sebuah hotel setempat.

“Perjuangan adalah untuk memenangkan Pak sebagai mewujudkan cita-cita perjuangan untuk menjalankan pasal 33 UUD 45,” katanya.

Scroll untuk melanjutkan

Sebelumnya Bupati Morut, Delis Julkarson Hehi mengungkapkan pandangannya mengenai kondisi hubungan antara TKA China, TKI, dan PT Gunbuster Nickel Industry (PT GNI).

Dalam dialognya di Indonesia Lawyers Club, Delis mengaku tak melihat kesenjangan antara TKA China dan TKI.

“Kalau melihat fakta lapangan, saya tidak melihat itu [kesenjangan],” kata Delis, menjawab pertanyaan Karni Ilyas, Kamis (19/1/2023).

Berbagai pihak mengungkapkan kecurigaan mereka bahwa kasus Morowali dipicu oleh ketimpangan sosial-ekonomi, salah satunya terkait ketidaksetaraan gaji. Delis sendiri mengaku tidak mengetahui besaran gaji yang diterima oleh TKA China, sementara TKI menerima gaji sesuai Minimum Kabupaten, yakni sekitar Rp3,3 juta. Meski tak mengetahui detail besaran gaji, namun Delis melihat TKA China terlihat memiliki bobot kerja yang lebih berat.

Delis menjelaskan bagaimana para TKA China menyantap makan siangnya di crane karena mereka terus melanjutkan pekerjaan mereka.

“Mereka bekerja nonstop. Pulang kerja juga mereka wajib masuk mes dan tidak boleh keluar. Kamar mereka kontainer. Jadi, kalau dibilang TKA senang, kalau melihat kondisi lapangan saya kira justru pekerjaan mereka berat,” jelas dia.*/LIA