AGAM, HAWA – Gempa bumi tektonik dengan magnitudo 5,2 mengguncang wilayah barat daya Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada Minggu (22/02). Peristiwa Gempa Agam ini terpusat di kawasan laut dan dipastikan tidak memicu gelombang tsunami.
Lebih lanjut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat pusat gempa berada pada koordinat 0,74 Lintang Selatan dan 99,14 Bujur Timur. Lokasi persisnya berjarak sekitar 110 kilometer arah barat daya Agam dengan kedalaman 29 kilometer. Gempa dangkal menengah ini terjadi akibat aktivitas pergerakan subduksi di zona Mentawai.
“Gempa bumi dengan magnitudo 5,2 mengguncang wilayah Barat Daya Agam, Sumatera Barat, pada Minggu, 22 Februari 2026 pukul 22:35:41 WIB. Pusat gempa berada di laut pada koordinat 0,74 LS dan 99,14 BT, sekitar 110 km barat daya Agam, dengan kedalaman 29 km,” kata perwakilan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Pihak BMKG menjelaskan bahwa Gempa Agam tersebut muncul karena pertemuan Lempeng Indo Australia dan Lempeng Eurasia. Selain itu, mereka memastikan kondisi dasar laut tidak mengalami deformasi yang signifikan. Oleh karena itu, aktivitas seismik ini sama sekali tidak berpotensi menimbulkan gelombang tsunami.
“Gempa ini dikategorikan sebagai gempa dangkal menengah yang disebabkan oleh aktivitas subduksi di zona Mentawai, di mana Lempeng Indo Australia bertemu dengan Lempeng Eurasia. Gempa ini tidak berpotensi tsunami karena tidak menyebabkan deformasi dasar laut yang signifikan,” terang perwakilan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Sementara itu, warga merasakan getaran Gempa Agam di beberapa wilayah sekitar hingga Senin (23/02) dini hari. BMKG merilis data intensitas getaran mencapai skala III MMI di Agam, Kepulauan Mentawai, dan Pasaman Barat. Warga melihat benda ringan bergoyang secara nyata di kawasan tersebut.
Selanjutnya, getaran serupa juga terasa dengan skala II MMI di wilayah Pariaman, Padang, Padang Panjang, dan Bukittinggi. Warga di daerah ini merasakan guncangan ringan layaknya sedang berada di atas perahu. Namun, pemerintah daerah belum menerima laporan mengenai kerusakan bangunan atau korban jiwa akibat musibah ini.
“Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan, menghindari bangunan yang retak atau rusak, dan tidak menyebarkan informasi yang belum diverifikasi,” tegas perwakilan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).*/LIA