LEBAK, HAWA Petani di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, memilih menahan stok hasil panen menyusul kondisi harga kakao anjlok dari Rp45.000 menjadi Rp20.000 per kilogram pada Sabtu (21/02). Penurunan harga yang mencapai lebih dari 50 persen ini membuat para petani enggan menjual hasil bumi mereka kepada pengepul di wilayah tersebut.

Beberapa petani di Kecamatan Warunggunung mencatat penyelesaian masa panen pada bulan Januari lalu. Namun, mereka memutuskan untuk menyimpan biji kakao kering tersebut di dalam gudang demi menghindari kerugian yang lebih besar.

“Kita panen kakao bulan Januari 2026 lalu, lebih baik disimpan sambil menunggu harga kembali membaik,” kata Didi, Petani Kakao Kecamatan Warunggunung.

Sementara itu, tren harga kakao anjlok juga memukul aktivitas pengepul hasil bumi di wilayah Rangkasbitung. Bambang, seorang pengepul lokal, mengakui transaksi perdagangan menjadi sepi karena pasokan barang sangat minim dari sentra produksi di Lebak, Serang, dan Pandeglang.

Selain itu, Dinas Pertanian Kabupaten Lebak mencatat luas lahan perkebunan kakao di wilayahnya mencapai 5.752 hektare. Instansi tersebut memproyeksikan area ini mampu memproduksi hasil panen tahunan sebanyak 2.280 ton apabila kondisi pasar kembali stabil.

Lebih lanjut, fenomena harga kakao anjlok bermula dari tekanan suplai yang berlebihan di pasar global. Data pasar dari StoneX menunjukkan surplus global mencapai 287.000 ton metrik untuk musim tanam 2025 dan 2026. Kondisi suplai ini memaksa harga komoditas di bursa New York turun tajam menyentuh angka 2.968 Dolar AS per ton pada Kamis (19/02).

Pemerintah pusat melalui Kementerian Perdagangan terus memantau pergerakan harga referensi dan harga patokan ekspor biji kakao Indonesia. Otoritas perdagangan mencatat perbaikan cuaca di kawasan Afrika Barat justru mendorong lonjakan produksi yang membanjiri pasar internasional tanpa diimbangi permintaan beli.

“Penurunan harga referensi dan harga patokan ekspor biji kakao dipengaruhi oleh peningkatan suplai seiring dengan peningkatan produksi di negara produsen utama di wilayah Afrika Barat. Hal itu disebabkan membaiknya cuaca yang tidak diikuti oleh peningkatan permintaan,” kata Tommy Andana, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan.