PALU, HAWA – Upaya rehabilitasi ekosistem Sulawesi Tengah kini didorong agar lebih terukur melalui paparan hasil kajian spesies mangrove, perhutanan sosial, dan Taman Hutan Raya (Tahura). Seminar yang digelar Fakultas Kehutanan (Fahutan) Universitas Tadulako bersama Relawan untuk Orang dan Alam (ROA) ini bertujuan memperkuat kebijakan pengelolaan alam berbasis data ilmiah.
Seminar hasil kajian ini menjadi bagian penting dalam rehabilitasi ekosistem Sulawesi Tengah yang berkelanjutan dengan melibatkan akademisi serta praktisi. Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako, Prof. Dr. Sc, Agr. Ir. Yusran, menjelaskan bahwa kolaborasi riset ini menghasilkan rekomendasi teknis yang aplikatif untuk para pemangku kepentingan.
“Materi yang dipaparkan hari ini sangat penting karena mencakup analisis kondisi lapangan sekaligus rekomendasi teknis yang dapat menjadi dasar perumusan kebijakan rehabilitasi yang terukur dan berbasis ilmu pengetahuan,” ujar Prof. Dr. Sc, Agr. Ir. Yusran, Dekan Fahutan Untad.
Dalam paparan terkait ekosistem mangrove di Desa Oncone Raya, Dr. Bau Toknok mengungkap fakta bahwa hanya 18,7 persen kawasan yang masih berupa vegetasi alami. Selebihnya telah beralih fungsi menjadi tambak dan area terbuka, sehingga membutuhkan strategi pemulihan yang melibatkan masyarakat lokal dan pengetahuan tradisional.
“Sabuk pesisir yang sehat, masyarakat yang kuat,” kata Dr. Bau Toknok, Peneliti Ekosistem Mangrove.
Sementara itu, Ir. Erika yang mewakili Dr. Ir. Sudirman Dg. Massiri memaparkan kajian mengenai Tahura Sulawesi Tengah seluas 5.195 hektar. Pengelolaan kawasan strategis ini dibagi menjadi beberapa blok zonasi untuk melindungi keanekaragaman hayati, termasuk tanaman penciri seperti pohon Cendana.
“Kawasan Tahura Sulawesi Tengah adalah aset strategis yang tidak tergantikan, sehingga pengelolaannya harus berbasis data ilmiah sekaligus memperhatikan pengetahuan lokal masyarakat,” jelas Ir. Erika, Perwakilan Tim Kajian Tahura.
Kegiatan ini mendapat dukungan dari Yayasan KEHATI melalui program SOLUSI yang merupakan inisiatif kerja sama antara Bappenas dan Pemerintah Jerman. Partisipasi aktif peserta diharapkan mampu menjawab tantangan rehabilitasi ekosistem Sulawesi Tengah di masa depan melalui data yang lebih akurat.