MAKASSAR, HAWA – Mursyid Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf Al-Makassary, Habib Syekh Sayyid Abd Rahim Assegaf atau Puang Makka, menyerukan dukungan kepada Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, M.A. sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Seruan ini disampaikan kepada rais syuriyah dan ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, apabila Menteri Agama RI tersebut resmi menjadi kandidat dalam Muktamar Ke-35 NU mendatang.
Amanah dari Puang Makka, salah satu tokoh penting di Sulawesi Selatan, ini disampaikan menjelang Muktamar Ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026. Kementerian Agama sendiri merupakan lembaga tempat Nasaruddin Umar menjabat saat ini.
“Bismillahirrahmanirrahim. Dengan memohon rida Allah SWT, berkah Baginda Rasulullah SAW, para wali Allah, serta para muassis NU Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, saya mengimbau para sahabat, Rais Syuriyah dan Ketua PCNU se-Sulselbar, agar memberikan dukungan penuh dan maksimal kepada Al-Mukarram Al-‘Alim Al-‘Allamah Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, M.A. untuk menjadi Ketua Umum PBNU,” kata Puang Makka, seperti yang diterima di Makassar, Selasa (11/8/2026).
Puang Makka menutup amanahnya dengan ungkapan khas masyarakat Sulawesi Selatan: “Siri’ta Pesseta.” Ungkapan ini menegaskan adanya ikatan moral dan kultural dalam mengantarkan putra Sulawesi Selatan mengambil peran kepemimpinan nasional NU yang lebih besar, khususnya dukungan terhadap Nasaruddin Umar.
Seruan ini memiliki makna tersendiri karena Puang Makka adalah putra Syekh Sayyid Djamaluddin Assegaf atau Puang Ramma, salah seorang tokoh penting dan muassis NU di Sulawesi Selatan. Dukungan dari Puang Makka Dukung Nasaruddin Umar juga mempertemukan dua mata rantai tradisi keulamaan Sulawesi Selatan: keluarga dan jaringan perjuangan Puang Ramma serta perjalanan intelektual Nasaruddin Umar.
Nasaruddin Umar lahir di Ujung, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, pada 23 Juni 1959. Pendidikan agamanya ditempuh di lingkungan Perguruan As’adiyah, Sengkang, sebelum melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi hingga menjadi guru besar. Tradisi pesantren As’adiyah membentuk fondasi intelektual dan spiritual penting bagi Nasaruddin Umar.
Perjalanan karir Nasaruddin Umar membawanya dari Bone dan Sengkang menuju Makassar hingga Jakarta, memasuki dunia akademik, birokrasi, diplomasi keagamaan, dan kepemimpinan umat. Selain menjadi guru besar, ia pernah menjabat Wakil Menteri Agama, Katib Aam PBNU, dan kini menjabat Menteri Agama RI, Imam Besar Masjid Istiqlal, serta Ketua Umum Pimpinan Pusat As’adiyah. Rekam jejak ini membuktikan bahwa Nasaruddin Umar memiliki pengalaman yang luas.
Hubungan Nasaruddin dengan tradisi NU Sulawesi Selatan juga tercermin dalam ziarahnya ke makam Puang Ramma di Tambua, Maros, pada Oktober 2025. Saat itu, Nasaruddin menyebut dirinya sebagai “anak ideologis” Puang Ramma. Kurang dari setahun setelah ziarah tersebut, kini giliran Puang Makka Dukung Nasaruddin Umar untuk memimpin PBNU.
Seruan ini tidak dimaksudkan untuk mempersempit Muktamar NU menjadi arena sentimen kedaerahan. Dukungan kepada Nasaruddin diletakkan dalam kerangka kebutuhan NU terhadap kepemimpinan yang memiliki kedalaman ilmu, kematangan spiritual, pengalaman organisasi, kemampuan mengelola institusi, serta jaringan nasional dan internasional. Nasaruddin dipandang mampu menjembatani pesantren dan perguruan tinggi, tradisi dan modernitas, serta kepentingan umat Islam Indonesia dengan percaturan global.
Amanah Puang Makka juga membawa pesan agar Muktamar Ke-35 NU tetap berlangsung dalam suasana keulamaan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap para muassis. Kompetisi kepemimpinan tidak semestinya memutus silaturahmi ataupun menggeser NU dari khitah perjuangannya. Pada akhirnya, keputusan mengenai kepemimpinan PBNU berada di tangan para muktamirin. Namun, aspirasi dari berbagai daerah, seperti yang disampaikan oleh Puang Makka Dukung Nasaruddin Umar, merupakan bagian sah dari dinamika organisasi.***