DONGGALA, HAWA – Akses pendidikan bagi anak-anak di pedalaman Sulawesi Tengah kembali menghadapi ujian berat. Puluhan siswa Sekolah Dasar (SD) di Desa Tonggolobibi, Kecamatan Sojol, Kabupaten Donggala, harus bertaruh nyawa setiap hari demi menuntut ilmu. Mereka terpaksa menyeberangi sungai menggunakan rakit darurat akibat putusnya jembatan gantung yang menjadi akses utama desa tersebut.

Laporan situasi per 11 Februari 2026 menunjukkan bahwa siswa SDN 10 Sojol, khususnya yang berdomisili di Dusun 7 (Bontopangi), tidak memiliki pilihan aman untuk menuju sekolah. Dokumentasi video yang beredar luas memperlihatkan para siswa menaiki rakit kecil yang ditarik secara manual melintasi arus sungai. Kondisi ini memicu kekhawatiran mendalam, mengingat sungai tersebut bukan hanya memiliki arus yang deras, tetapi juga menjadi habitat hewan predator.

Risman Yunus, salah satu warga setempat, mengonfirmasi bahaya yang mengintai anak-anak tersebut. Menurutnya, penggunaan rakit menjadi opsi terakhir yang terpaksa warga ambil karena jalur darat alternatif sangat tidak efisien bagi pejalan kaki.

“Ini jalan satu-satunya anak-anak kami menuju ke sekolahnya. Kalaupun mau naik motor bisa, tapi harus melingkar sekitar 7 kilometer dan itu wajib menggunakan kendaraan,” ungkap Risman.

Lebih lanjut, Risman menyoroti ancaman keselamatan yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar risiko tenggelam. Ia menegaskan bahwa sungai yang dilintasi para siswa tersebut dihuni oleh buaya liar.

“Semenjak jembatan putus, akses ke sekolah anak-anak kami harus melewati rakit kecil ini. Yang lebih menakutkan lagi, sungai ini juga ada buayanya,” tambahnya.

Krisis infrastruktur ini berpusat pada kerusakan total jembatan gantung yang menghubungkan Dusun 5, Dusun 7, dan Dusun 8. Jembatan tersebut kini dalam kondisi miring ekstrem dan nyaris putus, sehingga tidak mungkin lagi dilalui manusia. Isolasi wilayah ini memaksa warga Dusun 7 Bontopangi berinovasi dengan rakit seadanya agar aktivitas pendidikan dan ekonomi tidak lumpuh total.

Secara teknis, kerusakan jembatan ini merupakan akumulasi dari masalah menahun yang diperparah oleh bencana alam. Riwayat kerusakan tercatat sejak tahun 2019 dengan kondisi lantai kayu yang lapuk, disusul kerusakan sayap jembatan pada 2022 akibat gerusan air. Puncaknya, bencana hidrometeorologi berupa banjir dan tanah longsor pada 29 November 2025 menghantam struktur jembatan hingga tidak layak fungsi.

Bencana akhir tahun 2025 tersebut memang melumpuhkan sebagian besar wilayah Kecamatan Sojol, termasuk Desa Siwalempu, Balukang, dan Bou. Meski akses jalan poros utama Palu-Tolitoli telah pulih, perbaikan akses internal antar-dusun, khususnya jembatan gantung di Tonggolobibi, tampaknya belum tersentuh hingga Februari 2026.

Masyarakat setempat berharap pemerintah daerah segera memprioritaskan perbaikan jembatan gantung ini.LIA