JAKARTA, HAWA. Tren kenaikan Harga Emas 2026 diprediksi akan terus berlanjut hingga mencapai rekor tertinggi baru di tengah kondisi ekonomi global yang tidak stabil. Berdasarkan data perdagangan pada 23/02, harga emas dunia berada di level US$5.150 per troy ons setelah mengalami kenaikan harian sebesar 0,81 persen.
Lonjakan Harga Emas 2026 ini dipicu oleh rilis data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan gejala stagflasi, yakni kombinasi antara pertumbuhan ekonomi yang melambat dan inflasi yang tetap tinggi. Lembaga keuangan JPMorgan merespons kondisi ini dengan menaikkan proyeksi harga emas mereka menjadi US$6.300 per troy ons pada akhir tahun depan.
Jika dikonversi ke dalam rupiah dengan asumsi kurs Rp16.900 per dolar, target harga dari Goldman Sachs sebesar US$5.400 akan membuat Harga Emas 2026 di Indonesia menyentuh level Rp2,93 juta per gram. Kenaikan drastis ini mencerminkan lonjakan sebesar 74,61 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
“Despite the recent short-term fluctuations, we remain strongly optimistic about gold in the medium term, driven by a clear, structural trend of continued diversification,” kata Analis JPMorgan dalam laporan riset terbaru yang dirilis pada 22/02.
Selain faktor inflasi, permintaan dari bank sentral di seluruh dunia juga menjadi pilar utama penyokong Harga Emas 2026 yang diperkirakan akan menyerap hingga 800 ton logam mulia. Investor ritel di China dan masuknya dana besar melalui ETF emas semakin memperkuat dominasi aset fisik ini dibandingkan dengan aset kertas.
“UBS remains confident that gold can climb in 2026, projecting prices as high as $6,200 per ounce by mid-year before a consolidation to $5,900 by December,” kata Analis UBS terkait dinamika pasar komoditas global.