JAKARTA, HAWA . Likuiditas perekonomian atau Uang Beredar M2 di Indonesia tercatat mencapai Rp10.117,8 triliun pada Januari 2026 atau tumbuh sebesar 10 persen secara year-on-year. Peningkatan ini dipicu oleh kenaikan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat serta akselerasi penyaluran kredit perbankan yang tetap kuat di awal tahun.
Komponen Uang Beredar M2 didorong oleh pertumbuhan uang kartal dan giro rupiah (M1) sebesar 14,9 persen serta uang kuasi yang tumbuh 5,4 persen. Bank Indonesia mencatat realisasi ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Desember 2025 yang berada di angka 9,6 persen. Kondisi tersebut menunjukkan daya beli masyarakat dan aktivitas ekonomi nasional masih berada dalam tren positif.
Faktor utama lainnya yang mempengaruhi likuiditas adalah penyaluran kredit yang mencapai Rp8.416,4 triliun atau tumbuh 10,2 persen secara tahunan. Kredit investasi menjadi penyumbang terbesar dengan pertumbuhan 22,38 persen, disusul kredit konsumsi dan modal kerja. Pertumbuhan Uang Beredar M2 ini juga sejalan dengan peningkatan tagihan bersih kepada pemerintah yang melonjak hingga 22,6 persen.
“Perkembangan positif kredit ini didukung peningkatan kegiatan ekonomi, pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial Bank Indonesia, serta realisasi program prioritas pemerintah,” kata Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.
Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 18/02 hingga 19/02, otoritas moneter memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen. Langkah ini diambil guna memastikan stabilitas nilai tukar rupiah dan menjaga inflasi tetap berada di sasaran 2,5 plus minus 1 persen. Bank Indonesia optimis penyaluran kredit sepanjang 2026 mampu tumbuh pada kisaran 8 hingga 12 persen seiring terjaganya Uang Beredar M2 di pasar.