JAKARTA, HAWA Rentetan peristiwa Gempa Sabah dan Alaska berskala besar terjadi berdekatan dalam kurun waktu kurang dari enam jam pada Senin (23/02). Bencana alam ini dipantau ketat oleh otoritas Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang memastikan tidak ada ancaman tsunami untuk perairan Indonesia.
Dua guncangan Gempa Sabah dan Alaska memiliki karakteristik kedalaman yang berbeda. Gempa pertama bermagnitudo 7,1 mengguncang lepas pantai Sabah Malaysia pada pukul 23.57 WIB. Episenter berada di laut dengan jarak 109 kilometer arah timur laut Kota Kinabalu pada kedalaman 628 kilometer.
Selang beberapa jam kemudian, gempa kedua bermagnitudo 6,1 melanda Kepulauan Aleutian Alaska pada pukul 12.11 WIB. Pusat gempa tergolong dangkal karena berada 93 kilometer barat daya Nikolski pada kedalaman 25 kilometer.
Guncangan lindu di Sabah yang dipicu deformasi Lempeng Laut Filipina turut dirasakan warga di Provinsi Kalimantan Utara. Getaran terasa hingga Kabupaten Nunukan pada skala intensitas III MMI serta Kota Tarakan dengan intensitas II MMI.
“Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami,” kata Rahmat Triyono, Plt. Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG.
“Gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami di wilayah Indonesia. Oleh karena itu, kepada masyarakat pesisir di wilayah Indonesia dihimbau agar tetap tenang,” kata Rahmat Triyono, Plt. Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG.
Sampai Senin sore belum terdapat laporan resmi terkait korban jiwa maupun tingkat kerusakan bangunan akibat dampak Gempa Sabah dan Alaska. Warga diminta terus memperbarui informasi serta tidak mudah terpancing berita bohong.
“Informasi resmi terkait gempa bumi dan potensi tsunami hanya bersumber dari kanal komunikasi resmi BMKG yang telah terverifikasi,” kata Rahmat Triyono, Plt. Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG.