Mungkin dahulu sahabat kerap menatap langit-langit kamar saat jam 3 pagi dengan mata yang terasa berat dan hati yang sedikit ‘panas’? Badan rasanya remuk redam karena harus bangun menyiapkan sahur, sementara di sisi lain tempat tidur, suami masih tertidur pulas tanpa beban. Rasanya ingin berteriak meminta tolong, namun takut malah memicu pertengkaran di waktu mustajab. Jika Sahabat HAWA pernah, atau bahkan sering merasakan momen ini, tarik napas dalam-dalam. Ketahuilah: perasaan lelahmu itu valid, dan kamu tidak harus menanggung beban Ramadan sendirian.

Seringkali, perempuan terjebak dalam sindrom “Superwoman”. Kita merasa bahwa urusan domestik, mulai dari menu sahur, membangunkan anak, hingga hidangan berbuka, adalah tanggung jawab mutlak istri. Padahal, Ramadan adalah bulan kasih sayang dan kebersamaan. Memendam kelelahan sendirian hanya akan melahirkan silent resentment (kebencian terpendam) yang justru bisa menggerus pahala puasa dan keharmonisan rumah tangga.

Lantas, bagaimana cara mengajak suami berbagi peran tanpa terdengar seperti sedang mengomel?

Menurut Dr. John Gottman, seorang ahli hubungan pernikahan ternama dari The Gottman Institute, kunci dari negosiasi tanpa drama adalah teknik “Soft Start-up”. Mayoritas pertengkaran suami istri dimulai karena pembukaan percakapan yang kasar atau bernada tuduhan. Alih-alih berkata, “Kamu nggak pernah bantuin aku bikin sahur!”, cobalah ubah pendekatan dengan fokus pada perasaanmu sendiri (I-Statement).

Sahabat bisa mencoba kalimat seperti: “Ayah, aku merasa kewalahan kalau harus masak sahur dan beres-beres sendirian. Aku butuh bantuan Ayah supaya ibadah kita sama-sama maksimal. Bisa nggak kalau Ayah yang bagian membangunkan anak-anak dan menyiapkan air minum?”

Lihat perbedaannya? Kalimat kedua terdengar lebih mengundang kerjasama daripada mengajak perang.

Selain komunikasi yang lembut, buatlah kesepakatan teknis yang konkret. Suami seringkali bukan tidak mau membantu, tetapi mereka tidak peka atau bingung harus mulai dari mana. Duduklah bersama setelah berbuka puasa, saat perut sudah kenyang dan hati tenang. Tuliskan pembagian tugas sederhana. Misalnya: Istri memasak, Suami mencuci piring. Istri menyiapkan sahur, Suami merapikan meja makan setelahnya.

Ingatlah, Sahabat, meminta bantuan suami bukanlah tanda ketidakmampuan kita sebagai istri. Justru, melibatkan suami dalam urusan rumah tangga selama Ramadan adalah cara terbaik untuk melatih empati dan mempererat bonding pernikahan.

Tahun ini, mari berhenti berkorban sendirian dalam diam. Jadikan Ramadan sebagai momen untuk saling melayani, bukan hanya istri melayani suami, tetapi saling berlomba mencari pahala dalam meringankan beban pasangan. Karena sejatinya, rumah tangga yang berkah adalah yang dibangun di atas pondasi kerjasama yang penuh cinta.

Tips rumah tangga Ramadan, bagi tugas suami istri, komunikasi suami istri, manajemen waktu puasa, psikologi pernikahan

Jangan biarkan lelah merusak pahala puasa. Simak cara elegan membagi tugas rumah tangga dengan suami agar Ramadan makin harmonis dan penuh cinta.