JAKARTA, HAWA – Xiaomi dan Vivo naikkan harga ponsel di Indonesia sejak awal Januari 2026. Kenaikan ini mencapai Rp 800.000 pada beberapa model Vivo. Krisis chip memori global akibat permintaan AI memicu langkah tersebut.
Pantauan KAREBA pada 14 Januari 2026 menunjukkan Xiaomi menaikkan harga model flagship seperti Xiaomi 15T. Varian 12 GB/256 GB kini dijual Rp 7,499 juta, naik dari Rp 6,999 juta. Sementara itu, Xiaomi 15T Pro melonjak menjadi Rp 10,499 juta dari Rp 9,999 juta.
Vivo mengalami kenaikan lebih signifikan di lini Y series. Model Vivo Y21d varian 8/128 GB kini berharga Rp 3,4 juta, naik Rp 800.000 dari harga peluncuran Rp 2,6 juta. Selain itu, Vivo Y04s naik Rp 400.000 menjadi Rp 1,8 juta.
Country Director Xiaomi Indonesia, Wentao Zhao, menjelaskan penyesuaian harga. “Xiaomi menyesuaikan harga karena fluktuasi nilai tukar, pajak, logistik, dan kondisi operasional pasar,” kata Wentao Zhao, Country Director Xiaomi Indonesia, pada Rabu.
Produsen chip besar seperti Samsung Electronics dan SK Hynix memprioritaskan produksi High-Bandwidth Memory (HBM) untuk AI. Langkah ini mengurangi pasokan DRAM konvensional untuk ponsel. TrendForce mencatat harga DRAM naik 55-60% pada kuartal pertama 2026.
Permintaan memori untuk pusat data AI melonjak tajam. Samsung mengalihkan kapasitas produksi dari memori konsumen ke HBN. Situasi ini memukul produsen smartphone Android secara global.
Presiden Xiaomi, Lu Weibing, sudah memperingatkan sejak November 2025. “Saya memperkirakan tekanan akan jauh lebih berat tahun depan. Konsumen kemungkinan akan mengalami kenaikan harga eceran produk yang cukup besar,” kata Lu Weibing, Presiden Xiaomi, dalam konferensi pers.
Krisis ini memengaruhi konsumen Indonesia terutama di segmen entry-level dan menengah. Memori menyumbang 15-20% biaya produksi ponsel kelas menengah. Analis Reasense, Aryo Meidianto Aji, memprediksi tekanan harga paling besar di segmen tersebut.
Counterpoint Research memproyeksikan pengiriman smartphone global turun 2,1% pada 2026. Harga ponsel diprediksi naik 5-20% secara keseluruhan. Namun, Xiaomi dan Vivo menerapkan penyesuaian secara selektif.
PR Manager Vivo Indonesia, Alexa Tiara, mengonfirmasi pendekatan bertahap. “Vivo mempertimbangkan pengelolaan biaya komponen secara menyeluruh,” kata Alexa Tiara, PR Manager Vivo Indonesia, pada Rabu. Produk refurbished Vivo lolos dari kenaikan ini.
Xiaomi tetap berkomitmen pada harga kompetitif. Perusahaan fokus menjaga nilai produk meski menghadapi dinamika global. Konsumen kini mempertimbangkan opsi pembelian sebelum harga naik lebih lanjut.
Kondisi ini menandai tren baru di pasar smartphone Indonesia. Krisis chip global berlanjut sepanjang 2026. Produsen lokal dan internasional beradaptasi dengan strategi harga baru.*/LIA