PALU, HAWA – Universitas Tadulako (Untad) Palu mencetak sejarah baru dalam dunia pendidikan medis di Sulawesi Tengah (Sulteng). Fakultas Kedokteran (FK) Untad secara resmi meluncurkan tiga Program Studi Spesialis (Sp-1) sekaligus, yakni Obstetri dan Ginekologi (Obgyn), Ilmu Bedah, serta Ilmu Penyakit Dalam, pada Jumat (13/02). Langkah ini diambil sebagai respons cepat untuk menjawab krisis ketersediaan dokter spesialis di berbagai pelosok kabupaten dan kota di provinsi ini.
Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reny A. Lamadjido, yang hadir langsung dalam Grand Launching di Auditorium FK Untad, menyebut pembukaan prodi ini sebagai terobosan strategis. Banyak rumah sakit di daerah yang kesulitan memberikan layanan maksimal kepada pasien akibat minimnya tenaga ahli dan pendukung medis.
“Pendidikan spesialis harus kita hadirkan di Palu agar kebutuhan layanan kesehatan masyarakat bisa dipenuhi dari daerah sendiri,” tegas Reny di hadapan para akademisi dan mahasiswa kedokteran.
Tidak sekadar memberikan restu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulteng menjamin dukungan penuh terhadap keberlangsungan program ini. Dukungan tersebut mencakup penyediaan sarana prasarana hingga bantuan pembiayaan bagi mahasiswa melalui program beasiswa “Berani Cerdas”. Anggaran khusus bahkan telah dialokasikan pada tahun berjalan sebagai bukti keberpihakan pemerintah terhadap peningkatan kualitas kesehatan masyarakat Sulawesi Tengah.
Namun, Wagub Reny juga memberikan catatan penting bagi para peserta didik dan dokter pendidik. Ia meminta agar standar akademik dijaga ketat dengan memperbanyak pembelajaran berbasis kasus nyata di lapangan serta pendalaman literatur ilmiah. Baginya, integritas dan kompetensi jauh lebih penting daripada sekadar sertifikat kelulusan.
“Jangan hanya mengejar gelar spesialis, tetapi pastikan kompetensi dan kualitas tetap terjaga,” pesannya mengingatkan.
Senada dengan itu, Rektor Untad, Prof. Amar, menyambut positif sinergi kuat antara universitas dan pemerintah daerah. Ia juga mengapresiasi peran Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas) yang bertindak sebagai institusi pembina dalam pendirian prodi ini. Prof. Amar optimistis kehadiran tiga prodi spesialis baru ini akan mengukuhkan posisi Untad sebagai pusat rujukan pendidikan kedokteran di Kawasan Timur Indonesia.
Guna menjamin mutu lulusan, pihak universitas berkomitmen merekrut dokter-dokter spesialis senior yang mumpuni sebagai tenaga pendidik. Hal ini dilakukan untuk memastikan transfer ilmu berjalan optimal sesuai standar nasional.
Peresmian ini ditandai dengan pemukulan alat musik tradisional Gimba oleh Wakil Gubernur bersama Rektor Untad, Dekan FK Untad dr. M. Sabir, dan perwakilan FK Unhas. Turut menyaksikan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, unsur Forkopimda, serta Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Dr. Fauzan, yang mengikuti jalannya acara secara daring.*/LIA