PALU, HAWA – Angka kasus Penyakit Jantung Bawaan (Congenital Heart Disease/CHD) pada anak di Sulawesi Tengah menunjukkan tren yang patut mendapat perhatian serius. Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Sulawesi Tengah mencatat temuan hampir 200 kasus dalam kurun waktu satu tahun terakhir.

Fakta ini mendorong Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reny A. Lamadjido, menyerukan urgensi deteksi dini guna menyelamatkan masa depan generasi penerus.

Seruan tersebut disampaikan dr. Reny saat membuka kegiatan Skrining Penyakit Jantung Bawaan dalam rangka CHD Awareness Week di SDIT Bina Insan Palu, Jumat (6/2).

Kegiatan yang mengusung tema “Deteksi Dini Penyakit Jantung Bawaan, Selamatkan Masa Depan Anak” ini merupakan bagian dari kampanye nasional PERKI yang berlangsung serentak di seluruh Indonesia.

Dalam sambutannya, dr. Reny menekankan bahwa penyakit jantung bawaan bukan sekadar statistik medis, melainkan persoalan nyata yang memengaruhi kualitas hidup anak-anak di Sulawesi Tengah. Data PERKI Sulteng yang merekam 200 kasus sepanjang tahun lalu menjadi alarm bagi orang tua dan tenaga medis.

Pasien yang terindikasi positif umumnya langsung mendapatkan rujukan ke fasilitas kesehatan utama seperti RSUD Undata, RS Anutapura, maupun RS Sis Al Jufri.

“Penyakit jantung bawaan adalah salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius. Deteksi dini melalui skrining sangat penting agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin. Dengan begitu, anak-anak kita dapat tumbuh dan berkembang secara optimal serta memiliki kualitas hidup yang lebih baik,” ujar dr. Reny dengan tegas.

Secara nasional, prevalensi CHD memang cukup tinggi, berkisar antara 8 hingga 10 kasus per 1.000 kelahiran hidup. Kondisi ini menempatkan CHD sebagai kelainan bawaan paling umum pada anak. Tanpa deteksi dini, penanganan medis sering kali terlambat dan memengaruhi prognosis kesehatan jangka panjang sang anak.

Suasana di SDIT Bina Insan Palu tampak berbeda hari itu. Panitia menyulap ruang kelas 1 Abu Bakar dan Umar menjadi ruang pemeriksaan medis berstandar profesional. Di sana, tim medis melakukan pemeriksaan EKG (elektrokardiografi) dan ekokardiografi (echo jantung) kepada para siswa secara gratis. Fasilitas ini bertujuan menemukan anomali jantung sejak dini agar solusi medis dapat segera orang tua ambil.

Wagub Reny, yang juga berlatar belakang dokter spesialis, menyempatkan diri meninjau langsung proses pemeriksaan. Ia secara aktif mengimbau para orang tua dan siswa untuk membuang rasa takut terhadap prosedur medis.

“Tidak usah takut, karena pemeriksaan ini dilakukan langsung oleh dokter-dokter ahli,” imbaunya untuk menenangkan para siswa yang menunggu giliran.

Melihat antusiasme dan pentingnya kegiatan ini, Wagub Reny mendorong agar CHD Awareness Week tidak hanya berhenti di Kota Palu. Ia berharap PERKI dan dinas terkait dapat memperluas jangkauan skrining hingga ke kabupaten-kabupaten lain di Sulawesi Tengah. Pemerataan akses deteksi dini menjadi kunci menekan risiko fatalitas akibat penyakit jantung bawaan di wilayah pelosok.

“Saya berharap kegiatan ini dapat dilaksanakan juga di kabupaten-kabupaten lain, agar penyakit jantung bawaan dapat diketahui sejak dini di seluruh wilayah Sulawesi Tengah,” pungkasnya.

Hadir Ketua PERKI Sulawesi Tengah, Kepala Sekolah SDIT Bina Insan Palu, perwakilan Direktur RS Anutapura Palu, serta mahasiswa tim bantuan medis Arteri Fakultas Kedokteran Universitas Alkhairaat (Unisa) yang membantu jalannya pemeriksaan teknis.*/LIA