PALU, HAWA – Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, tegaskan komitmen terhadap pengembangan kawasan industri yang berkelanjutan di Kabupaten Parigi Moutong. Ia memastikan bahwa Proyek Strategis Nasional (PSN) Neo Energi Parimo Industrial Estate (NEPIE) yang berlokasi di Kecamatan Siniu akan mengusung konsep industri hijau (green industry), berbeda secara signifikan dengan kondisi industri di Morowali yang identik dengan asap batubara.
Pernyataan ini disampaikan Anwar Hafid untuk menjawab kekhawatiran masyarakat terkait dampak lingkungan dari industrialisasi. Ia menekankan bahwa kawasan industri yang mencakup Desa Towera dan sekitarnya ini telah ditetapkan oleh pemerintah pusat melalui Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 6/2024.
“Saya tegaskan, saya tidak menginginkan Parigi itu menjadi seperti Morowali yang dikepung asap batubara. Kawasan di Siniu ini berbeda karena sepenuhnya mendukung industri hijau yang ramah lingkungan,” ujar Anwar Hafid kepada awak media, Rabu (4/2).
Mantan Bupati Morowali dua periode tersebut menjelaskan perbedaan mendasar skema industri di kedua wilayah tersebut. Morowali berperan sebagai hulu yang mengolah nikel dari tanah menjadi barang setengah jadi. Sementara itu, Parigi Moutong akan mengambil peran di sektor hilirisasi dengan mengolah bahan setengah jadi tersebut menjadi produk akhir, seperti baterai hingga kendaraan listrik (electric vehicle).
Kunci utama dari konsep ramah lingkungan ini terletak pada sumber energinya. Pabrik-pabrik di Siniu tidak akan menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batubara, melainkan memanfaatkan energi terbarukan.
“Energinya nanti bersumber dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Banggaiba di Kabupaten Sigi dengan kapasitas 145 megawatt. Pembangkit ini dibangun khusus untuk menyuplai kebutuhan pabrik, sehingga proses produksinya bersih tanpa emisi asap yang merusak udara,” jelas Anwar Hafid.
Selain aspek lingkungan, Anwar juga memaparkan dampak positif terhadap infrastruktur logistik. Kehadiran industri ini akan membuka akses jalan baru yang strategis. Rencananya, perusahaan akan membuka jalan tembus dari Siniu langsung ke Pelabuhan Pantoloan sepanjang kurang lebih 20 kilometer, serta jalur dari Sausu menembus Sigi. Hal ini diproyeksikan akan memangkas biaya logistik dan mempercepat perputaran ekonomi di Kota Palu dan sekitarnya.
Meski optimisme tinggi menyelimuti proyek ini, tantangan di lapangan masih terasa. Bupati Parigi Moutong, Erwin Burase, mengungkapkan bahwa progres fisik saat ini masih berjalan lambat, terutama terkait pembebasan lahan.
“Target awal pengembang membutuhkan sekitar 1.000 hektare agar pembangunan fisik bisa dimulai secara masif. Namun, hingga saat ini lahan yang tersedia baru mencapai kisaran 300 hektare di wilayah Kecamatan Siniu dan Desa Towera,” ungkap Erwin.
Kendati demikian, pemerintah daerah tetap optimis bahwa hambatan ini dapat teratasi seiring berjalannya waktu. Dengan status PSN, kawasan industri NEPIE dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Sulawesi Tengah yang berwawasan lingkungan masa depan.*/LIA