PALU, HAWA – Wakil Gubernur Sulawesi Tengah dr. Reny Lamadjido mengajak seluruh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memperkuat koordinasi untuk menekan angka inflasi Sulawesi Tengah yang kembali meningkat di awal tahun 2026.
Rapat Koordinasi Daerah tersebut digelar di Gedung Pogombo pada 26/02 guna mengantisipasi tekanan harga menjelang periode Idul Fitri. Berdasarkan data terbaru, angka kenaikan harga di wilayah ini sempat melampaui ambang batas toleransi sebesar 3,5 persen pada Januari 2026.
“Ayo kita cari tahu betul apa yang harus dilakukan supaya inflasi ini turun dan sehat kembali,” kata dr. Reny Lamadjido, Wakil Gubernur Sulawesi Tengah.
Penyebab utama kenaikan inflasi Sulawesi Tengah adalah cuaca ekstrem yang mengganggu produksi pangan lokal seperti beras, cabai, dan ikan laut. Selain itu, tingginya minat masyarakat membeli emas dan proyeksi kenaikan harga tiket transportasi menjadi tantangan serius bagi stabilitas ekonomi daerah.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah Muhammad Irfan Sukarna menjelaskan bahwa kelangkaan stok juga dipicu oleh tingginya permintaan dari provinsi tetangga yang mengalami krisis produksi serupa.
Strategi pengendalian akan difokuskan pada kerangka 4K yaitu ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Pemerintah daerah berencana mengintensifkan sidak pasar dan menggelar pasar murah secara rutin untuk menjaga daya beli masyarakat.
“Harapan kami saat bulan Maret, inflasi Sulawesi Tengah lebih melandai,” kata Muhammad Irfan Sukarna, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah.