JAKARTA, HAWA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 3,12% atau 202,27 poin menjadi 6.252,09 pada pembukaan Senin (12/1/2026). Pelemahan ini picu aksi jual bersih asing Rp2,5 triliun dan tekanan pasar global. Transaksi perdagangan capai Rp18,4 triliun dengan 713 saham turun versus 133 naik.

Investor asing jual saham senilai Rp2,5 triliun di tengah kekhawatiran ekonomi AS pasca pidato Presiden Donald Trump. Rupiah melemah ke Rp16.250 per dolar AS tambah beban sentimen pasar domestik. Sementara itu, volume perdagangan naik 15% dari Jumat lalu akibat panic selling di saham blue chip.

Sektor perbankan pimpin penurunan dengan minus 4,5%. Saham BBCA turun 5,2% ke Rp9.200, BBRI ambruk 6,1% ke Rp4.450, dan BMRI merosot 4,8% ke Rp6.100. Sektor pertambangan dan sumber daya alam ikut terpuruk 3,8% diikuti barang konsumsi 2,9%. Hanya sektor teknologi bertahan dengan penurunan tipis 0,5%.

Analis sebut pelemahan IHSG bagian koreksi setelah rally akhir 2025. “Tekanan eksternal dari yield US Treasury 10 tahun di atas 4,5% dan ekspektasi tarif impor Trump picu outflow modal,” kata Raditya Dimitra, Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, pada Senin. Inflasi Indonesia stabil 2,6% Desember 2025 gagal topang sentimen.

Pemerintah siapkan stimulus fiskal melalui Kementerian Keuangan untuk stabilkan pasar. Bank Indonesia pantau likuiditas rupiah dan potensi intervensi valas. Meskipun begitu, proyeksi pemulihan IHSG ke 6.500 poin bergantung data GDP AS Rabu depan.

IHSG tutup di zona merah sepanjang hari dengan low 6.180 poin sesi pertama. Lebih dari 80% saham LQ45 anjlok rata-rata 4%. Investor ritel disarankan tunggu konfirmasi bottom di support 6.200 sebelum akumulasi. Pelemahan ini jadi pengingat volatilitas pasar awal 2026.

Asosiasi Pengelola Pasar Modal Indonesia (APPMI) imbau investor diversifikasi portofolio ke obligasi dan emas. Bursa Efek Indonesia (BEI) umumkan libur akhir pekan panjang mulai 17 Januari. Sentimen global dominasi perdagangan hari ini dengan Wall Street turun 1,8% Jumat malam.*/LIA