JAKARTA, HAWA – Pasar keuangan Indonesia kontras pertengahan Januari 2026: rupiah sentuh Rp16.860 per USD terlemah delapan bulan Selasa (13/1), emas Antam cetak rekor Rp2,65 juta/gram hari ketiga berturut-turut. Investor asing lakukan net buy jumbo di BEI sebaliknya.

Nilai tukar tutup Rp16.860 per dolar, depreciate 1,04% YTD. Pembukaan Rabu Rp16.850 tapi bayang Rp17.000 kian dekat. Erwin G. Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI, sebut stabilisasi terus jalan. “Tekanan dari geopolitik, independensi bank sentral maju, dan kebijakan Fed,” jelasnya.

Harga beli emas Antam naik Rp21.000 jadi Rp2.652.000/gram 13 Januari, rekor baru hari ketiga. Emas dunia $4.568/ons dorong safe-haven domestik. Marketeers konfirmasi lonjakan paralel global. Buyback Rp2,5 juta/gram ikut tembus batas historis.

Investor asing beli bersih Rp2-3 triliun di BEI Januari meski rupiah lemah. IHSG sempat rekor 9.000 intraday awal bulan sebelum koreksi. Saham blue chip bank dan komoditas jadi incaran. Kontras defisit APBN 2,92% PDB 2025.

Lukman Leong dari Mayoo Financial prediksi rupiah Rp17.000 jika BI tak intervensi agresif. Geopolitik Iran-Trump dan DOJ Powell picu outflow. Emas lokal untung 25% YTD vs saham. Koordinasi dengan Bank Indonesia pantau likuiditas valas ketat.

Eskalasi tensi Timur Tengah, Trump tarif 25% mitra Iran, dan Fed dovish erodasi kepercayaan emerging market. Defisit fiskal domestik tambah beban sentimen. BI injeksi Rp50 triliun SBN dan swap bilateral stabilkan.

Investor ritel alirkan Rp1,5 triliun ke emas Antam Januari. Treasury catat Rp2,6 juta/gram digital rekor. Industri panel surya untung impor murah USD kuat. Proyeksi Metals Focus $5.000/ons akhir 2026.

Diversifikasi emas 10-20% portofolio saran analis. Asing beli saham undervalued IHSG 8.900 level. Rupiah rebound potensial Rp16.500 jika Fed potong suku bunga Maret. Pantau data CPI AS Kamis dan BI Rate 22 Januari.

Dinamika kontras ini cerminkan ketahanan pasar Indonesia. Rupiah lemah untung eksportir nikel sawit. Emas lindung nilai inflasi 2,6%. Asing optimis reformasi Prabowo percepat rebound Q2 2026.*/LIA