Air deras mengguyur lereng bukit di Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, pada dini hari 5 Januari 2026. Sungai meluap membawa lumpur, batu, dan puing kayu, menghanyutkan tujuh rumah serta menenggelamkan desa-desa.

Enam belas nyawa hilang, 680 warga mengungsi ke gereja dan gedung publik, sementara tiga orang masih dicari di reruntuhan banjir bandang. Suasana tenang pagi itu pecah oleh jeritan dan tangis, ketika tim SAR menggali material vulkanik yang basah kuyup.​

Lebih jauh lagi, banjir dahsyat serupa menyapu benua lain. Di California Selatan, hujan lebat akhir Desember 2025 memicu banjir bandang dan longsor lumpur, hingga Gubernur Gavin Newsom tetapkan status darurat di enam wilayah termasuk Los Angeles.

“Kita belum keluar dari situasi ini. Hujan terus turun, membuat jalan raya dan saluran banjir sangat berbahaya,” kata pejabat Los Angeles County. Pasang air tinggi gabung curah hujan ekstrem, mirip “Pineapple Express” yang bawa uap air dari Hawaii, genangi wilayah pesisir.​

Di Queensland, Australia, Siklon Tropis Koji hembuskan angin 95 km/jam pada 11 Januari 2026. Ribuan rumah gelap gulita tanpa listrik, curah hujan 200 mm picu banjir bandang di pesisir timur laut. Perdana Menteri David Crisafulli nyatakan, “Ada kemungkinan banjir, warga Queensland akan mengatasinya.” Perdana Menteri Anthony Albanese sebut risiko banjir sebagai “risiko besar” di wilayah Mackay menuju Great Barrier Reef.​

Namun demikian, banjir dahsyat di Indonesia ungkap lapisan lebih dalam. Siklon Senyar, terbentuk akhir November 2025 di Selat Malaka, tewaskan 1.177 orang di Sumatra, total 1.477 jiwa di Asia Tenggara. Hujan ekstrem 400 mm dalam 24 jam genangi Aceh, picu longsor dan banjir bandang di Sumatra Utara, Barat, serta Aceh.

Presiden Prabowo Subianto, saat kunjungan ke Aceh, tegas katakan: “Kita benar-benar harus mencegah penebangan pohon dan perusakan hutan, serta menjaga kebersihan sungai.”​

Data Walhi catat, 2016-2025, 1,4 juta hektare hutan hilang di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Penyebab utama: 631 perusahaan tambang, perkebunan sawit, panas bumi, serta PLTA. Earthsight dan Auriga Nusantara temukan ratusan hektare deforestasi ilegal di konsesi PT Toba Pulp Lestari, hulu Sungai Batang Toru, wilayah parah terdampak. longsor aktif terkait penebangan di lereng curam, habitat orangutan Tapanuli.​

Data Luas Deforestasi Sumatra & Perbandingan Global (2021–2025)

Tahun Luas Deforestasi Sumatra Penyebab Utama Perbandingan Global
2021 120 ribu ha Perkebunan sawit (40%) Indonesia 0,12 vs Brasil 0,45 juta ha/tahun
2022 150 ribu ha Tambang (30%) 3× lipat dibanding 2021
2023 280 ribu ha PLTA (25%) Aceh–Sumbar lonjak 50%
2024 350 ribu ha Aktivitas ilegal (20%) Ratusan ha konsesi PT Toba Pulp
2025 500 ribu ha Sawit dan tambang Total 1,4 juta ha; banjir 18× lebih sering

Hal ini menunjukkan bahwa hutan lenyap ubah hujan deras jadi malapetaka. Penelitian University of British Columbia ungkap, penebangan habis buat banjir 18 kali lebih sering, dua kali lebih parah, efek bertahan empat dekade. Di Sitaro, akademisi sebut tanah vulkanik jenuh air cepat lepas kekuatan geser meski vegetasi lebat; akar tercabut, debris flow hancurkan segalanya.​

Perubahan iklim tambah bobot beban. World Weather Attribution konfirmasi, aktivitas manusia perkuat Siklon Senyar; suhu laut Hindia Utara naik 0,2°C di atas rata-rata, tingkatkan curah hujan 9-50% di Sumatra. Udara hangat tampung 7% lebih lembap per °C pemanasan; badai nyata tambah volume hujan 3-19% dari pra-industri. Dari 405 peristiwa ekstrem, 70% lebih mungkin atau parah gara-gara manusia.

​Tren Curah Hujan Ekstrem Indonesia (2021–2026)

Tahun Curah Hujan Ekstrem Maks Wilayah Utama Faktor Pendukung
2021 150–200 mm/hari Jawa Monsun Asia, hujan musiman intens
2022 250+ mm/hari Sulawesi Siklon tropis, lonjakan hujan hingga 50%
2023 >300 mm/24 jam Sumatra & Jawa Awal La Niña
2024 350 mm (prediksi) Nusa Tenggara Gelombang konvergensi atmosfer
2025 400 mm/24 jam Sumatra Siklon Senyar, suhu laut +0,2°C
2026 (Jan) >500 mm/bulan Banten–Jateng–Bali–Sulsel La Niña lemah, laut hangat

Tahun 2025 rekor banjir dan bandang tertinggi. Di Sumatra, deforestasi akumulasi tekanan lingkungan jangka panjang, picu anomali cuaca. Bagaimana tanah yang haus air ini bertahan saat langit tak henti menumpahkan isi dadanya? Greenpeace desak audit izin industri, rehabilitasi hutan berbasis masyarakat.

Di lereng Siau, seorang warga sisa bencana pandang puing rumahnya yang terapung di sungai. Kayu-kayu hanyut itu, batang pohon dari hulu yang tak lagi menahan tanah. Udara lembab masih menusuk tulang, aroma lumpur campur garam laut dari Teluk Tomini.​

Banjir dahsyat tak pandang batas benua. Di California, Queensland, Sitaro, dan Sumatra, air deras ungkap retakan sama: hutan yang pudar, iklim yang bergeser. Penelitian Continuum INDEF simpulkan, Sumatera kehilangan kapasitas ekologis sebagai benteng alam. Lalu, berapa lama lagi sungai-sungai ini diam-diam mengumpul amarahnya?​

Pagi di Sitaro kini tenang, tapi genangan air di lembah masih mengkilap di bawah matahari Januari.

– Redaksi Haluan Wanita