Pernahkah kamu merasa lelah berjuang sendirian karena si dia terasa begitu dingin? Rasanya pesan panjang lebar yang kamu kirim dengan penuh perasaan hanya dibalas singkat, atau momen romantis yang sudah kamu siapkan setengah mati justru ditanggapi dengan wajah datar.
Bagi Sahabat HAWA, situasi seperti ini seringkali otomatis diterjemahkan sebagai tanda lunturnya perasaan atau ketidakpedulian. Hati rasanya teriris pelan-pelan, bertanya-tanya, “Apakah aku masih berharga baginya?” Namun, tarik napas dalam-dalam dulu. Belum tentu dia tidak peduli. Bisa jadi, radar cintamu dan dia sedang berada di frekuensi yang benar-benar berbeda.
Seringkali kita terjebak dalam apa yang bisa disebut sebagai “bias bahasa cinta”. Kita cenderung memberikan cinta dengan cara yang kita ingin terima, bukan dengan cara yang pasangan butuhkan. Inilah logika yang perlu kita balik.
Ketika kamu menghadapi pasangan yang terlihat cuek, kamu mungkin sedang berhadapan dengan seseorang yang “kamus bahasanya” berbeda total denganmu. Kamu berbicara dalam bahasa puisi (Words of Affirmation), sementara dia menjawab dengan bahasa teknik (Acts of Service).
Dr. Gary Chapman, seorang konselor pernikahan ternama dan penulis buku fenomenal The 5 Love Languages, menegaskan sebuah poin penting: “Cinta itu seperti bahasa asing. Jika kita tidak meluangkan waktu untuk mempelajarinya, kita selamanya tidak akan mengerti maksud pasangan kita, sekeras apa pun kita mencoba.”
Chapman menekankan bahwa “tangki cinta” seseorang hanya bisa terisi jika kita menuangkan bensin yang tepat.
Lantas, bagaimana memecahkan kode si dia yang super cuek ini?
Pertama, berhenti menuntut reaksi verbal jika itu bukan keahliannya. Pasangan yang terlihat tidak peduli seringkali adalah tipe Acts of Service atau Quality Time yang introvert.
Bagi mereka, membetulkan kran air yang bocor di rumahmu, memastikan motor kamu sudah diservis, atau sekadar duduk diam di sebelahmu saat kamu bekerja, adalah teriakan “Aku Sayang Kamu” yang paling lantang. Logika terbaliknya adalah: Jangan dengarkan apa yang tidak dia ucapkan, tapi lihatlah apa yang tangannya kerjakan untukmu.
Kedua, pahami bahwa ketenangan bukan berarti kekosongan. Banyak pria yang dididik untuk menahan emosi, sehingga ekspresi cinta mereka menjadi sangat subtil. Cobalah ubah strategimu. Alih-alih bertanya “Kamu sayang aku nggak?”, cobalah masuk ke dunianya.
Apresiasi hal-hal kecil yang ia lakukan. Kalimat seperti, “Terima kasih ya sudah jemput aku tepat waktu, aku merasa aman,” seringkali lebih ampuh melelehkan hati yang kaku daripada tuntutan romantis yang berapi-api.
Mencintai pasangan yang cuek memang membutuhkan kesabaran ekstra dan kacamata perspektif yang baru. Ini bukan tentang mengubah siapa dia, tapi tentang belajar membaca “surat cinta” yang ia tulis lewat tindakan, bukan kata-kata.
Ingatlah, Sahabat Hawa, kadang cinta yang paling tulus justru hadir dalam hening yang menenangkan, bukan dalam riuh yang menjanjikan.